UNTUK PARA LELAKI, YAKIN BEBAN HIDUP WANITA LEBIH RINGAN?

Written by on April 26, 2018

Budaya patriarki atau budaya yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama sudah sejak lama ditemui di berbagai negara di dunia, bukan hanya di Indonesia tapi juga di Eropa Barat. Walaupun zaman semakin modern, nyatanya masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa wanita tidak perlu bersekolah tinggi dan cukup membantu mengurus rumah tangga. Wanita juga sering banget mendapat perlakuan diskriminatif yang pastinya tidak menyenangkan, misalkan harus mendengar ungkapan yang berkata, “beban hidupmu kan ringan, tidak perlu cari uang untuk menafkahi keluarga.”

Memang sih, menafkahi keluarga bukan merupakan pekerjaan yang ringan, tapi apa benar hal ini berarti beban hidup wanita yang tidak bertanggung jawab menafkahi keluarga menjadi lebih ringan? Coba deh pertimbangin hal-hal berikut ini.

  1. Setiap bulan wanita harus menerima tamu yang sangat menyebalkan

Detik.com

Wanita memiliki sebuah siklus bulanan yang tidak dapat dihindari dan terkadang menyebalkan. Kayaknya nggak perlu dijelasin soal bagaimana proses dan penjelasan ilmiahnya, tapi yang pasti tamu bulanan ini banyak berdampak bahkan menghambat aktivitas wanita.

Mungkin beberapa wanita mengklaim dapat beraktivitas secara normal saat memasuki masa tersebut, namun tidak sedikit juga yang merasa sangat terganggu dengan kehadiran tamu bulanan. Tidak heran, tamu bulanan ini seringkali datang dengan membawa teman-temannya yaitu si nyeri punggung, kram perut, lemas, dan keluhan lainnya yang mungkin

Beberapa hal yang sering dirasakan oleh wanita misalnya nyeri punggung, perut keram, lemas berlebihan dan keluhan lainnya yang ditambah dengan keharusan untuk menyembunyikan semua rasa sakit itu dan tetap menyelesaikan tanggung jawab sehari-hari. Dan meski sekuat-kuatnya lelaki, ternyata banyak juga loh lelaki yang tidak kuat menghadapi rasa sakit yang dirasakan wanita saat haid atau yang disebut dengan dysmenorrhea. Coba lihat buktinya di video berikut ini.

 

2. Wanita biasanya dibebankan untuk mengurus pekerjaan rumah 

 

Liputan 6.com

Tidak seperti laki-laki dengan jam kerja yang kebanyakan sudah pasti, wanita harus bekerja seharian di rumah. Mereka seringkali dituntut untuk bangun lebih awal karena harus menyiapkan sarapan, membangunkan anak, memandikannya, mencuci baju dan tugas-tugas lain yang rasanya tidak selesai-selesai hingga malam tiba. Seringkali kaum hawa juga harus tidur lebih larut sembari menunggu anaknya tertidur pulas, dan hanya memiliki sedikit waktu beristirahat sebelum anaknya tiba-tiba menangis di subuh hari. Dan sebuah survey mengatakan bahwa ibu menyusui tidur kurang dari 6 jam sehari.

Meski memiliki waktu kerja yang panjang, lebih panjang dari waktu kerja kantoran yang nine to five, sayangnya kerja keras wanita tidak bisa diukur sebagaimana pekerjaan yang dilakukan pria. Jika pria mendapat gaji bulanan lengkap dengan tunjangan-tunjangannya, belum lagi kesempatan untuk dipromosikan oleh pimpinan perusahaan, hasil kerja para wanita mengurus rumah seringkali tidak mendapat apresiasi semestinya. “Kan sudah kewajibannya,” mungkin hal ini juga yang terlintas di pikiran Ultimafriends.

 

  1. Wanita dituntut lebih banyak dan kadang haknya tidak dipenuhi oleh perusahaan

 

 

Merdeka.com

Badan Pusat Statistik menyatakan gaji rata-rata wanita lebih rendah dibandingkan dengan pria.

 

Tidak diketahui dengan jelas apa alasan di balik lebih rendahnya gaji buruh wanita dibanding buruh pria. Beberapa perusahaan bahkan sangat menghindari mempekerjakan buruh wanita karena dianggap merugikan bagi perusahaan.

 

You might also wanna read: Kesenjangan Gaji Antara Pria dan Wanita, Apakah Adil?

  1. Bila bermasalah dengan keturunan, biasanya wanita lebih sering disalahkan

 

Cantik.tempo.co

Mungkin yang satu ini tidak begitu relevan dengan kehidupan mahasiswa, tapi hal ini memang nyata terjadi di masyarakat. Masih banyak laki-laki yang menganggap masalah keturunan semuanya semata karena kesalahan perempuan. Misalnya ketika istri tidak kunjung mengandung walaupun sudah lama menikah, maka wanitalah yang dituduh tidak subur dan dipaksa untuk melakukan pengobatan, padahal secara ilmiah, ada faktor lain yang mempersulit kehamilan yaitu ketidaksuburan pria. Tapi berapa banyak pria yang sadar akan hal ini?

Contoh lainnya lagi adalah penggunaan kontrasepsi yang seringkali dibebankan kepada wanita. Tahukah kamu kalau kontrasepsi yang sering dipakai oleh orang Indonesia bersifat memanipulasi sifat alamiah tubuh wanita? Kontrasepsi hormonal yang biasa dilakukan dengan cara suntik atau konsumsi pil, memanfaatkan hormon estrogen dan progestin dengan menghambat indung telur wanita berovulasi atau melepaskan sel telur. Mungkin terdengar sepele, tapi efek sampingnya seringkali sangat membuat wanita menjadi tidak nyaman, seperti rasa mual, sakit kepala berlebihan, emosional bahkan pada beberapa wanita, efek seserius penggumpalan darah merupakan hal yang bukan tidak mungkin terjadi.

Kini ada solusi baru untuk masalah tersebut, yaitu penggunaan kontrasepsi untuk laki-laki dengan efek samping yang kurang lebih sama dengan kontrasepsi pada wanita. Tapi berapa banyak laki-laki yang ‘berani’ mengambil tanggung jawab ini? Laki-laki sering beralasan hal itu dapat mengganggu pekerjaan mereka untuk menafkahi keluarga, tapi ingatlah bahwa tidak sedikit perempuan yang juga tetap bekerja di bawah pengaruh kontrasepsi ini.

  1. Tidak ada cara melahirkan yang tidak menyakitkan

 

Merdeka.com

Zaman memang berkembang, teknologi juga berkembang, dan salah satu penemuan yang sangat berarti adalah operasi sesar yang memungkinkan calon ibu tidak perlu merasakan sakit saat proses bersalin. Tapi banyak yang belum tahu bahwa prosedur sesar memiliki efek samping yang tidak dapat dianggap enteng. Walaupun terlihat tidak menyakitkan pada proses bersalin, tapi sebenarnya perjuangan wanita terjadi pada saat pra-operasi dan pasca-operasi. Sebelum prosedur, calon ibu akan diberikan anestesi epidural, yaitu anestesi yang disuntikan lewat tulang punggung untuk memberikan efek mati rasa di bagian perut agar tidak sakit saat proses operasi. Memang benar bahwa wanita tidak perlu merasa sakit saat proses mengeluarkan bayi, namun setelah prosedur operasi sesar, efek samping seperti mual-mual, sakit di bagian punggung bekas suntikan, infeksi bekas luka sayatan hingga siklus menstruasi yang kacau sudah menanti setelahnya.

Begitulah Ultimafriends, bisa jadi masih banyak beban yang harus ditanggung wanita selain yang disebutkan di atas. Untuk kalian para pria yang masih sering menganggap wanita itu lemah, hilangkanlah pikiran itu, mereka bisa jadi lebih kuat daripada kaum pria. Dukung kesetaraan perempuan dan laki-laki!

Editor: Vania Evan


107.7 FM UMN Radio

Current track
TITLE
ARTIST