UMN ‘Zaman Now’ di Mata Mereka

Written by on March 18, 2018

Setelah lebih dari 10 tahun Universitas Multimedia Nusantara memasuki  dunia pendidikan tinggi di Indonesia, UMN telah menghasilkan ribuan lulusan. Meski tidak dapat dikatakan bahwa semua lulusan dari UMN adalah lulusan yang unggul, di antara ribuan mahasiswa yang menempuh pendidikan di UMN, pasti ada lulusan-lulusan unggul.

UMN sendiri menjadi kampus yang namanya cukup tersohor karena minimnya tindakan senioritas, baik secara nyata maupun yang terpublikasi. Tidak ada kasus yang membuat heboh dunia maya dan memancing komentar pedas netizen. Terima kasih kepada angkatan pertama UMN tahun 2007 yang menciptakan kultur seperti itu, kultur tanpa penindasan hanya karena perbedaan angkatan. Di tangan kurang lebih 120 orang mahasiswa angkatan pertama inilah, kultur mahasiswa UMN terbentuk  seperti yang sekarang ini.

Namun setiap angkatan pasti memiliki cara mereka sendiri, cerita mereka sendiri dan gaya mereka sendiri. Hal ini akan sangat dipengaruhi oleh lingkungan mereka, baik lingkungan kampus yang tercermin dari kegiatan belajar mengajar, regulasi dan sebagainya, maupun dari lingkungan sosial yang dapat terlihat dari gaya hidup, teknologi yang berkembang dan tren budaya populer lainnya.

Tim reporter tertarik untuk mengetahui bagaimana mahasiswa pendahulu di UMN memandang mahasiswa UMN ‘zaman now’. Untuk itu, tim reporter melakukan wawancara terpisah dengan 3 alumni UMN yang kini mengajar di UMN. Mereka adalah mahasiswa angkatan 2007 Albertus Magnus Prestianta atau yang biasa dipanggil Mas Abeng; teman seangkatannya, Maria Stefani Osesoga atau yang akrab dipanggil Bu Epi. Ditambah satu lagi alumni angkatan 2010, Helga Liliani Cakra Dewi yang baru mulai mengajar di UMN tahun 2017. Mereka adalah alumni UMN yang menerima beasiswa S2 dari UMN, lalu kembali lagi ke universitas milik Kompas Gramedia ini setelah selesai masa studinya.

Ketiga alumni ini satu suara tentang infrastruktur UMN yang sangat jelas terlihat lebih lengkap dibanding saat mereka masih menjadi mahasiswa. Terlebih lagi Mas Abeng dan Bu Epi yang masih pernah merasakan berbagi gedung dengan BNI pada tahun 2007 sebelum gedung A dan B UMN berdiri pada tahun 2009. Ketiganya juga pernah merasakan kantin yang pada saat itu masih berposisi di tempat yang sekarang menjadi selasar penghubung gedung B dan C.

“Dulu kantin itu dimonopoli sama yang namanya Libro, dulu tipenya itu dia sediain makanan di stall dia, terus kita tinggal tunjuk mau yang mana,” jelas Helga saat ditanya tentang kantin UMN pada masanya.

Helga Liliani Cakra Dewi, dosen pengajar mata kuliah Business Principle

Untuk menyiasati perut lapar namun dihadapkan dengan harga makanan yang dipatok mahal oleh kantin UMN saat itu, pilihan lainnya adalah membeli makanan di belakang Universitas Surya, di daerah dekat Dina Raos. Helga menjelaskan di dekat sana ada penjual kaki lima yang mangkal. Saat itu SDC masih belum bersandingan dengan UMN, sehingga salah satu sarana hiburan yang paling dekat hanya di SMS.

“Saya sering ke SMS karena cuma itu yang ada, kalau di UMN paling sering di perpus karena skripsi,” jawab Mas Abeng lewat pesan singkat.

Selain infrastruktur, sisi lain yang mereka lihat mengalami perubahan adalah dari sisi interaksi mahasiswa. Bu Epi dan Mas Abeng mengakui bahwa interaksi yang terjadi antar mahasiswa maupun antara mahasiswa dengan dosen mengalami perubahan yang cukup signifikan. Bu Epi menyorot dari sisi interaksi antar mahasiswa saat itu yang menurutnya lebih membaur lintas prodi, tidak terlepas dari faktor jumlah mahasiswa yang belum banyak saat itu.

“Dulu karena mahasiswanya masih sedikit, jadi angkatan 2007, 2008, 2009 itu saling mengenal lintas prodi,” ungkapnya mengingat kembali masa kuliahnya.

Maria Stefani Osesoga, dosen pengajar Cost Accounting, Financial Accounting dan Management Accounting

Tim reporter sendiri memercayai bahwa perbedaan tren dan budaya populer mengambil andil besar dalam hal ini. Contohnya dengan kehadiran smartphone sebagai barang yang tidak mewah lagi, terkadang malah menjadi bumerang. Sebuah ungkapan ‘mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat’ mungkin dapat menggambarkan situasi mahasiswa sekarang. Mahasiswa seringkali lupa akan ‘dunia’ sekitar mereka sejak makin mudahnya mengakses ‘dunia’ luar hanya lewat genggaman tangan. Hal ini menjadi perhatian tersendiri bagi Helga yang menyebut mahasiswa sering tidak mendengarkan penjelasan dosen di kelas karena terganggu oleh smartphone.

“Jadi mereka sekarang tuh nggak bisa lepas dari handphone, susah banget untuk dijauhin dari handphone,” tegas Helga.

Dalam kesempatan wawancara ini, tim reporter tidak lupa meminta beberapa pesan dari narasumber untuk mahasiswa UMN yang masih menempuh pendidikan di UMN. Ketiganya memberikan pesan yang berbeda namun pastinya memiliki tujuan yang sama yaitu mewujudkan UMN yang lebih baik. Bu Epi berharap mahasiswa UMN dapat menjadi mahasiswa yang tidak lembek, dalam artian tidak mudah mengeluh bila diberi tugas yang banyak. Dirinya mengakui bahwa tugas yang dulu dosennya berikan jauh lebih banyak dan sulit, namun angkatannya tetap berusaha menyelesaikan semua soal, bertanya pada teman yang lebih mampu dan mencari jawaban dari banyak sumber, berbeda dengan mahasiswa sekarang yang walaupun sangat mudah mencari jawaban lewat internet namun masih seringkali mengeluh dan tidak mengerjakan tugasnya. Helga menambahkan bahwa kita sebagai mahasiswa seharusnya lebih sadar akan konsekuensi bila tidak menjalankan kewajiban kita. Kita sendirilah yang akan rugi bila sudah membayar biaya kuliah yang tidak murah tapi malah bermalas-malasan.

Artikel ini akan ditutup dengan pesan dari Mas Abeng, ia mengingatkan bahwa UMN memang menyediakan sarana dan fasilitas untuk kita belajar, tapi akan menjadi siapa diri kita ditentukan oleh diri kita sendiri.

Albertus Magnus Prestianta, dosen pengajar Digital Videography & Digital News Production

“Meskipun kesempatan begitu banyaknya tapi kalau tidak dimanfaatkan oleh keinginan mahasiswa, ya sayang sekali.”

Foto: Linked In, Kompasiana, Instagram pemilik
Editor: Vania Evan
Tagged as


107.7 FM UMN Radio

Current track
TITLE
ARTIST