UMN Radio Try: Menghilangkan Rasa Kesepian Melalui Interaksi Virtual dengan Sahabat dan Keluarga

Written by on March 2, 2021

You know what they say, Ultimafriends. Feeling connected to another person is a basic human need.

Manusia adalah makhluk hidup yang membutuhkan interaksi sosial. Sepanjang sejarah, manusia saling mengandalkan satu sama lain untuk bertahan hidup yang membuat kita sangat bergantung pada interaksi sosial. Itulah mengapa rasanya sangat berat bagi banyak orang ketika mereka harus mengunci diri dalam rumah dan mengurangi jumlah interaksi yang dilakukan setiap harinya karena pandemi COVID-19 ini.

Mungkin, pada masa awal pandemi kamu masih merasa tenang dan bahkan senang karena kamu merasa bisa mendapat rehat dari interaksi sosial yang kerap membuatmu kewalahan.

We were prepared to put our social interactions on hold for the next two or three months. But not a whole year.

None of us were prepared for this quarantine to stretch this long.

Kembali ke kutipan di atas, di saat manusia sudah tidak bisa lagi berinteraksi dengan sesama, hal terbaik untuk mengatasi rasa kesepian adalah dengan menghibur diri sendiri. Mulai dari menonton film, series, membaca buku, belajar menari, dan lain-lain.

Namun, bahkan itupun masih belum cukup untuk menghilangkan rasa hampa yang dirasakan.

Saat semua film di to watch list kamu sudah tercoret, saat semua novel di rak kamu sudah dibaca, that’s when the loneliness hits you and it hits hard.

 

How we’re all feeling after months into this quarantine.
Source: Giphy

Sebuah survei yang dilakukan oleh CivicScience menunjukkan bahwa aktivitas yang paling dirindukan selama social distancing ini adalah berkumpul dengan teman-teman. Jadi, tim reporter ingin melakukan sebuah riset kecil: apakah rasa hampa yang sering dirasakan oleh orang-orang ketika pandemi ini bisa diisi kembali melalui interaksi secara virtual?

Smile! Saatnya kamu berinteraksi dengan sahabat dan keluargamu via panggilan video!
Source: Lifehacker

Selama satu minggu, tim reporter berhubungan kembali dengan beberapa teman lama dan keluarga yang sudah jarang berhubungan sejak awal pandemi ini.

Enggak tahu kenapa, rasanya dag-dig-dug ketika mengajak mereka untuk meluangkan waktu demi sekadar teleponan. Aneh, ‘kan? Padahal, mereka adalah teman dan keluarga dekat reporter. Rasanya seperti hari pertama masuk kuliah setelah libur panjang, enggak siap untuk berinteraksi secara intens setelah sekian lama menghabiskan waktu untuk diri sendiri dan keluarga inti.

Hari pertama, reporter menelepon dua teman SMP sekaligus. Awalnya canggung, enggak tahu mau bahas apa karena pertanyaan seperti “Ngapain aja lo pas pandemi gini?” berakhir dengan jawaban yang simpel: kalau enggak kuliah, ya nonton drama Korea. Namun percakapan itu semakin lama semakin seru saat mulai membahas tentang betapa dramatisnya masa-masa SMP dulu. We hung up on the promise of making this a monthly routine.

Acute loneliness: 75% left

Esoknya, reporter menghubungi teman lama yang kini tinggal di luar negeri, way out of reach. Jika dengan teman SMP saja canggung, gimana dengan teman yang bentuk wajahnya saja terkadang sudah mulai dilupakan oleh memori reporter. Ternyata, justru pembicaraan reporter dengannya sangat menarik. Bahasan-bahasan seperti bagaimana COVID-19 diperlakukan dan ditangani oleh pemerintah di negara masing-masing, perbedaan budaya, rasisme di Belanda, hingga hal-hal tabu lainnya menjadi topik pembicaraan pada panggilan video yang bertahan hingga lima jam itu. Sayangnya perbedaan time zone membuat reporter harus menyudahi telepon itu. We, too, made a promise to keep in touch.

Acute loneliness: 38% left

Hal yang menarik terjadi ketika reporter berhubungan kembali dengan tante yang tinggal di luar kota. Hampir setahun berlalu tanpa bertemu dengan tante yang selalu memanjakan reporter sejak kecil. Lebaran lalu pun enggak bisa bersilaturahmi akibat pandemi ini.

Sepuluh detik setelah panggilan video itu terhubung, beliau mengeluarkan air mata. “Oh, look at you! Enggak ketemu setahun lebih dan kamu sekarang udah gede banget! Argh!!! I missed you so much!” Itulah hal pertama yang beliau sampaikan kepada reporter. Enggak banyak yang dibicarakan selama panggilan ini berlangsung, beliau cukup sibuk dan harus kembali bekerja lagi. Namun, beliau berjanji untuk memeluk reporter erat ketika waktu yang tepat tiba.

Acute loneliness: 0% left

And that concludes this reporter’s little experiment.

Conclusion? It worked.

Walau interaksi secara virtual enggak akan seindah interaksi langsung, ini adalah satu-satunya opsi paling aman untuk saat ini. So, kenapa enggak memanfaatkannya? Bahkan, kamu bisa lebih mudah berkomunikasi dengan sahabat atau keluarga yang mungkin tinggal di luar negeri.

Kalimat “Maaf, gue lagi sibuk” yang mungkin sering terlontar dulu sudah nggak lagi menjadi alasan andalanmu. How busy could you possibly be during this pandemic anyways?

Reporter sangat menyarankan Ultimafriends untuk mencoba challenge ini. Selain bisa mengisi rasa kosong dan hampa, kamu juga mungkin akan mendapat banyak insight dari sahabat atau keluargamu.

Once you do it, it’ll feel like a huge weight has been lifted off of you. We are social beings after all.

Editor: Elizabeth Chiquita Tuedestin P.


107.7 FM UMN Radio

Current track
TITLE
ARTIST