REVIEW: FILM LIMA ANGKAT LIMA ISU PENGAMALAN PANCASILA

Written by on June 7, 2018

“Ini kisah mereka,

dan mereka adalah kita.”

Film Lima merupakan kisah lima anggota keluarga yang tidak hanya berjuang memecahkan persoalan masing-masing, tetapi juga memerangi batin untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila dengan segala risiko yang harus ditanggung. Digarap oleh lima sineas yang berbeda, yakni Lola Amaria, Shalahuddin Siregar, Tika Pramesti, Harvan Agustriansyah, dan Adriyanto Dewo, masing-masing fokus mengarahkan film berdasarkan satu pokok sila.

Meski nilai-nilai Pancasila tersebut dikemas secara implisit, nyatanya film yang tayang mulai 31 Mei 2018 ini memang dibuat untuk merayakan hari lahir Pancasila yang jatuh setiap tanggal 1 Juni. Bertepatan dengan kondisi negara yang belum lama ini sedang kisruh karena isu-isu kebangsaan, film Lima turut menghadirkan kasus-kasus lama yang tidak hanya semata-mata terkait nasionalisme, tetapi juga menunjukan ketidakberesan dalam hubungan antarmanusia yang mencerminkan kegagalan implementasi Pancasila yang digadang-gadang sebagai ideologi dasar negara.

Diawali dengan konflik perbedaan agama, tiga bersaudara Fara si sulung (Prisia Nasution), Aryo (Yoga Pratama), dan Adi si bungsu (Baskara Mahendra) serta asisten rumah tangga Bi Ijah (Dewi Pakis) harus membuktikan apakah perbedaan kepercayaan di antara mereka malah menjadi penghalang untuk mengurus pemakaman sang ibu (Tri Yudiman). Akankah keinginan untuk menjalankan perintah agama masing-masing mengalahkan ikatan hubungan darah yang ada di antara mereka?

Setelah menemukan resolusi konflik, alur cerita berpindah menuju ke permasalahan si bungsu yang harus menghadapi teman-temannya yang melakukan tindakan bullying hingga ketidaksengajaan Adi yang harus ikut menyaksikan kecenderungan masyarakat Indonesia yang suka main hakim sendiri. Adi harus mematahkan pepatah “diam adalah emas” dan mencoba untuk peduli pada korban dengan mengambil tindakan terhadap hal-hal yang tidak berjalan dengan semestinya. Kasus ini diharapkan dapat mengingatkan penonton akan sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab.

Image result for film lima

Salah satu potongan scene dari film LIMA (Google)

 

Sila persatuan Indonesia digambarkan dengan konflik Fara sebagai pelatih renang yang dipaksa pemilik klub untuk menilai anak didiknya bukan berdasarkan prestasi dan angka-angka pengukur lainnya, melainkan berdasarkan ras dan warna kulit. Isu rasisme dan diskriminasi yang cukup kental di Indonesia diangkat secara berani dan blak-blakan, dengan sedikit mengorek luka lama bekas kasus kerusuhan Mei 1998.

Tidak berhenti sampai situ, Aryo yang merupakan anak laki-laki tertua dalam keluarga harus memecahkan persoalan pembagian hak waris dan mengadakan dialog antar anggota keluarga untuk mencapai kata mufakat. Hal ini mengingatkan sila keempat Pancasila, sekaligus menjadi sentilan keras bahwa uang dapat menjadi akar dari masalah hubungan persahabatan bahkan hubungan darah.

Sebagai penutup, Bi Ijah yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri oleh tiga kakak beradik ini harus kembali ke kampung halaman untuk menuntut keadilan bagi masyarakat di kelas bawah secara umum, khususnya buah hatinya. Dengan membawa kenyataan bahwa hukum di Indonesia runcing ke bawah, bagian ini akan menorehkan tanda tanya besar di benak penonton, apakah hukum benar-benar dapat menegakkan keadilan ataukah hukum justru membohongi hati nurani dan meniadakan empati? 

Secara keseluruhan, keberanian pihak-pihak di balik layar untuk mengangkat isu SARA yang cenderung dihindari oleh pembuat film lain sebagai bentuk pencegahan konflik perlu diacungi jempol. Namun, dengan menjejalkan lima nilai Pancasila sekaligus ke dalam satu film berdurasi 110 menit ini dapat berakhir pada dua kemungkinan. Antara menjadikan film ini sarat makna atau malah menyebabkan penjabaran masalah menjadi tidak tuntas hingga ke akarnya.

Editor: Melissa Octavianti

107.7 FM UMN Radio

Current track
TITLE
ARTIST