Rape Culture 101: Indonesia dan Edukasi Budaya Pemerkosaan

Written by on July 24, 2021

Before you read this, please note that this article contains graphic descriptions of sexual assault and sexual harassment. If you are easily triggered by them, please check the list of possible trigger warnings at the end of the article.

Your safety matters the most.

Ultimafriends, kamu pernah kepikiran enggak sih kenapa kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual itu sulit banget untuk hilang dari dunia ini? Rasanya, hampir setiap hari headline mengenai kasus pemerkosaan muncul di portal berita. Mulai dari kasus pemerkosaan yang dilakukan ayah sendiri terhadap anaknya, kekerasan seksual yang menimpa seorang murid, bahkan hingga pelecehan seksual yang dilakukan oleh selebriti.

Does it ever make you wonder why rape and sexual assault are so hard to be erased?

Well, ini jawaban singkatnya: sexual assault and sexual harassment will never be gone until rape culture stops.

Hah, rape culture? Apa sih itu?

Sebenarnya, terminologi rape culture atau budaya pemerkosaan sudah ada sejak tahun 1970-an yang dipopulerkan oleh feminis-feminis gelombang kedua di Amerika. Sayangnya, walau istilah ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu, bukan berarti inti permasalahan dari banyaknya kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual hilang.

Jadi, apa itu rape culture?

Menurut Olfman dan Sharna dalam buku The Sexualization of Childhood, rape culture adalah sebuah teori sosiologis tentang bagaimana tindakan pemerkosaan dan pelecehan seksual dinormalisasi karena sikap masyarakat tentang gender dan seksualitas. Intinya, masyarakat sering kali dipertemukan oleh gambar, bahasa, peraturan dan hukum, budaya, dan masih banyak fenomena lain yang memvalidasi serta menormalisasikan tindakan pemerkosaan dan pelecehan seksual.

Sayangnya, kesadaran masyarakat Indonesia tentang keberadaan rape culture ini masih rendah. Rendah banget. Ada banyak faktor yang mendorong hal ini terjadi. Mulai dari candaan, jargon, iklan, didikan, dan lain-lain.

Termasuk di Indonesia yang darurat edukasi rape culture.

Kebanyakan masyarakat berpikir bahwa terminologi rape culture pasti hanya membahas tentang pemerkosaan dan bagaimana cara mengurangi kasus pemerkosaan. Padahal, bahasan mengenai rape culture itu dalam dan memiliki banyak elemen tersendiri.

Rape culture bukan hanya sekedar membahas mengenai tindakan pemerkosaan atau perilaku individu saja, dinamika hubungan, budaya, dan sistem sosial juga menjadi bahasan dalam rape culture.

So, Ultimafriends, let me take you on a very needed Rape Culture 101.

To make things easy, coba lihat piramida rape culture di bawah ini.

Piramida rape culture.
Source: Rape Culture Pyramid guide by Virginia Sexual and Domestic Violence Action Alliance.

Yup. Just like I said, rape culture is more complicated than you think.

Artikel ini akan jadi sangat panjang jika dibahas semua satu persatu. Maka dari itu, gue hanya akan bahas beberapa elemen rape culture yang cukup kental di Indonesia dari masing-masing kategori.

1.Sexual assault/kekerasan seksual

Kekerasan seksual yang sering dikenal hanya merupakan tindakan penetrasi secara paksa saja. Namun, ternyata pemaksaan berhubungan seksual, pemberian obat atau bius hingga korban tidak sadarkan diri, dan meraba-raba bagian privat seseorang merupakan tindakan kekerasan seksual.

Not only that. Sexual assault can also happen during sex! Contohnya adalah melepas kondom secara diam-diam, melanggar penggunaan ‘safe word’ atau kata aman saat berhubungan intim, dan consent sepihak. Sayangnya, karena banyaknya stigma yang mengatakan bahwa jika sejak awal sudah sama-sama mau, maka kegiatan seterusnya pasti telah memiliki consent. Padahal, seperti yang telah disinggung pada artikel sebelumnya, consent atau izin bukanlah suatu hal yang pasti dan mutlak. Consent dapat berubah kapan saja dan penting untuk selalu didiskusikan dengan pasangan.

2. Sexual harassment/pelecehan seksual

Terlalu banyak tindakan pelecehan seksual yang dipandang sebelah mata dan dinormalisasikan oleh masyarakat. Misalnya yang sering ditemui adalah komentar berbau seksual yang diujarkan dengan entengnya oleh seorang lelaki di media sosial seorang perempuan, kemudian dibalas dengan kalimat-kalimat dukungan oleh teman-temannya.

Akunbodong1: Wow, aku liat foto ini jadi pengen nyusu

Akunbodong2: Sama bang gua juga :V

Akunbodong3: Bungkus baaangg jangan sampe lepas

Oh, Ultimafriends pernah dengar soal revenge porn?

‘Kalau kamu enggak mau nurutin aku, bakal aku sebar video intim kamu!’

Penyebaran video intim seseorang juga merupakan tindakan pelecehan seksual. Mirisnya, bukannya menghentikan tindakan tersebut, masih banyak yang justru meminta untuk dikirimkan salinan video tersebut.

Ultimafriends, jika hal serupa—amit-amit—terjadi pada kamu, segera hubungi saluran khusus Komnas Perempuan untuk pengaduan ancaman penyebaran foto atau pun video intim kamu melalui telepon di 021-3903963 dan 021-80305399, atau melalui email ke [email protected]

3. Invasion of personal space/invasi ruang pribadi

Invasi ruang pribadi ini juga termasuk dalam kategori pelecehan seksual, namun perbedaannya adalah biasanya dilakukan oleh seseorang yang enggak dikenal. Namun, bukan berarti enggak mungkin dilakukan oleh orang di sekitar kita.

Pernah dengar cerita seorang wanita yang menyaksikan seseorang masturbasi di dalam bis sambil mengunci pandangannya ke wanita tersebut? Yes, itu merupakan sebuah bentuk pelecehan seksual dalam kategori invasi ruang pribadi.

Selain itu, cat calling dan gombalan secara paksa juga termasuk ke dalam kategori ini. Kategori ini merupakan kategori yang rumit untuk dilaporkan karena sulit untuk mendapatkan bukti. That is also why this is one of the most common form of sexual harassment.

4. Cultural

Jika tiga poin di atas membicarakan mengenai tindakan kekerasan seksual dan pelecehan seksual, maka poin 4 dan 5 membahas mengenai faktor pendorong kekalnya rape culture di Indonesia.

Faktor budaya merupakan faktor pendorong yang paling sulit untuk diubah. Cara berpikir, budaya itu sendiri, didikan, dan kepercayaan tiap orang pasti berbeda.

Faktor pendorong rape culture menjadi begitu kental salah satunya adalah candaan tentang kekerasan seksual dan pelecehan seksual yang dinormalisasi. Candaan yang mengobjektifkan wanita di stand-up comedy, memes bertajuk ‘dark jokes’ yang sama sekali tidak lucu, hingga candaan seksis seperti ‘women belong in the kitchen’ atau ‘boys will be boys’.

Power abuse yang cukup sering terjadi di tempat kerja dan sekolah. (Sumber foto: Unsplash)

Selain itu, power abuse juga sering menjadi faktor pendorong seseorang melakukan tindakan kekerasan seksual atau pelecehan seksual. Hal ini terjadi karena pelaku merasa bahwa ia memiliki kekuasaan yang lebih tinggi kepada korban.

Terakhir,

victim blaming.

Jika ada seorang korban yang menceritakan pengalaman kekerasan atau pelecehan seksualnya dan respon pertamamu adalah “memangnya kamu pakai baju apa?” atau “lagian kamu ngapain pulang malam-malam sendirian?”, maka evaluasi kembali moralmu.

Hal yang dibutuhkan oleh korban adalah dukungan, bukan tuduhan balik bahwa seolah-olah dirinya lah yang salah.

‘Ditoel iseng gitu aja masa sampai marah-marah sih?

‘Abis kamu keliatan seksi sih. Makannya jadi digodain gitu sama masnya’

Those were the words said to me when I complained about being inappropriately poked in a restaurant by a waiter.

The worst thing was, it really made me wonder: was I in the wrong? Apa salah gue karena sweater gue kurang longgar? Then I realized, his urge nor lust are not anyone else’s responsibility but his own.

Your response to a sexual assault or sexual harassment victim matters. Percaya atau enggak, hampir 90% korban nggak berani melaporkan karena malu dan/atau takut terkena victim blaming.

5. Structural

Have you ever heard of the term corrective rape?

Corrective rape atau pemerkosaan korektif adalah tindakan pemerkosaan yang dilakukan terhadap orang-orang yang dianggap tidak sesuai dengan norma-norma sosial yang berlaku. Tujuannya adalah untuk menghukum tindakan yang dianggap “abnormal” agar kembali mengikuti norma-norma sosial.

Corrective rape biasanya diterapkan di conversion therapy yang dilakukan kepada komunitas LGBTQ+. Tindakan tersebut berangkat dari adanya homophobia yang begitu kental. Hampir mirip dengan power abuse, kategori struktural ini sering didorong oleh perasaan bahwa pelaku lebih superior dibandingkan dengan korban.

Stop menyalahkan korban dan selesaikan sumber masalahnya. (Sumber foto

Nah, Ultimafriends, selesai sudah penjelasan tentang rape culture dan berbagai macam bentuknya.

Indonesia sangat darurat edukasi seks dan rape culture. Edukasi sejak dini perlu dilakukan agar kekerasan dan pelecehan seksual dapat dipahami sebagai tindakan yang salah dan kejam.

Solusi lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi tingkat kekerasan dan pelecehan seksual adalah meningkatkan empati setinggi mungkin. Ubah cara pandang dengan berhenti melontarkan pertanyaan yang menyudutkan korban seperti “Kamu pakai baju apa sampai bisa diperkosa?”. Pertanyaan yang benar seharusnya ditanyakan kepada pelaku adalah “Apa yang membuat kamu berpikir bahwa kamu boleh melakukan kekerasan atau pelecehan seksual terhadap orang lain?”.

Stop asking the wrong questions to the wrong person to get the right solutions to this.

Rape culture itu tersirat. Jangan biarkan rape culture menjadi semakin ternormalisasi.

Rape culture is real. Rape culture is dangerous. Rape culture can happen to anyone and be done by anyone.

Rape culture is real and it needs to stop now.

 

List of possible trigger warnings:

  1. Contoh kekerasan seksual (rape, drugging, coercion, and violation of trust during sex) pada poin pertama (sexual assault)
  2. Contoh grafis tentang komentar seksual di media sosial dan revenge porn pada poin kedua (sexual harassment)
  3. Contoh grafis voyeurism dan flashing pada poin ketiga (invasion of personal space)
  4. Contoh singkat rape jokes dan victim blaming pada poin keempat (cultural)
  5. Contoh grafis corrective rape, mentions of homophobia pada poin kelima (structural)
Editor: Elizabeth Chiquita Tuedestin P.

107.7 FM UMN Radio

Current track
TITLE
ARTIST