Pulau Elegi Bagikan Nilai Kehidupan Lewat 3 Karakter Utama

Written by on April 24, 2019

Teater musikal, dengan berbagai kompleksitasnya selalu menampilkan amanat dan pesan yang bisa dibawa oleh penonton. Salah satunya pementasan karya 100 lebih anak SMA Negeri 78 Jakarta yang diberi judul Pulau Elegi.

SEP Teater, atau dikenal sebagai sanggar drama yang ada di SMAN 78 bukan pertama kalinya memproduksi pementasan teater. Dalam binaan Komunitas Teater Sekolah The Someday Project, mereka sudah menggeluti seni panggung sejak 2012.

Berbeda dari produksi sebelumnya, Rinaldy Zulkarnain, selaku pelatih dan sutradara SEP Teater menjelaskan bahwa Pulau Elegi berbeda. Kali ini, kisahnya berakhir nestapa atau bahasa gaulnya sad ending.

Menurutnya, di produksi kali ini, SEP Teater juga keluar dari zona nyamannya. “Pulau Elegi ini nggak cuma membawa topik soal percintaan aja, tapi juga isu politik yang dialami antara pulau kecil dan pulau yang lebih maju,” jelas Rinaldi yang ternyata juga alumnus dari SMA Negeri 78.

Tiga karakter utamanya yaitu Nanai, Lelei, dan Estamya merupakan cerminan dari sifat-sifat manusia yang bisa Ultimafriends temui sehari-hari. Mereka adalah perwakilan dari pementasan ini untuk menyampaikan nilai pada kisah ini.

Leilei yang merupakan seorang putra mahkota di Pulau Feitane, telah menjalin hubungan bersama Estamya lewat surat-menyurat selama 5 tahun. Sebagai putra mahkota, ia disegani dan memiliki pemikiran yang lebih maju ketimbang mayoritas penduduk di pulaunya. Namun, di tengah hubungannya bersama Estamya, datanglah Nanai yang juga menawarkan mimpi.

Di sini, Leilei hadir sebagai simbol dilematis manusia dalam menentukan pilihannya, setia bersama Estamya atau berjuang dengan Nanai melawan penjajah kongsi dagang.

Estamya dan Leilei sedang menikmati waktu berdua dengan menari bersama. (20/4)

Estamya digambarkan sebagai sosok sempurna yang dicintai semua orang. Ia mahir dalam bermain anggar, pintar berkomunikasi, dan jago melukis. Keteguhan hatinya diuji kala Leilei mulai dekat dengan Nanai.

Nanai hidup sebagai perempuan aktivis dengan pendirian yang kuat dan mantab dengan segala pilihannya. Namun, nyatanya hanya mantap dengan pilihan diri sendiri tanpa berpikir panjang juga tidak membawanya pada hasil yang memuaskan.

Saat hati Lelei mulai terlena oleh pribadi Nanai. (20/4)

Leilei, Estamya, dan Nanai bukan tampil sebagai intrik cinta segitiga. Setiap kekurangan yang mereka miliki adalah refleksi untuk penonton bahwa kisah kehidupan tak selalu dapat berjalan mulus, begitu juga sikap manusia saat menghadapinya. Terkadang, kamu bisa terjebak dalam pilihan yang salah.

“Karakter orang itu nggak cuma bisa kita lihat dari wajah depannya aja, kita mau kasih realita kalau manusia itu ada sisi lemah pun kuatnya,” tegas lelaki berambut gondrong ini.

Tak hanya ingin menampilkan sifat karakter manusia, SEP Teater juga hadir dengan inovasi baru. Saat tirai ditutup, seorang lelaki berteriak dari sebelah pinggi kanan panggung, “Ada berita besar di bawah bangku!” Isi kertas tersebut adalah berita soal kepergian Nanai yang dieksekusi mati karena menyarakan pendapatnya.

Bersama dengan kendala yang mungkin masih sesekali ditemukan saat pementasan, Pulau Elegi yang dipersembahkan oleh SEP Teater berhasil mempersembahkan karya dengan nilai kehidupan paling sederhana bahwa manusia tidak ada yang sempurna, Ultimafriends!


107.7 UMN Radio [CT]

Current track
TITLE
ARTIST