PERDANA KONSER DI JAKARTA, LUKAS GRAHAM KISAHKAN MASA KECILNYA

Written by on October 2, 2019

Jakarta baru saja kedatangan Lukas Graham dalam konser perdananya tadi malam (01/10) dengan Hold My Hand sebagai lagu pembuka. Selama 90 menit konser berlangsung, penonton yang memenuhi The Kasablanka Hall, Mal Kota Kasablanka, mendapat kesempatan untuk mendengar kisah di balik lagu-lagu grup musik asal Denmark ini, seperti Not A Damn Thing Changed, Redemption Song, dan Funeral.

Tidak hanya mendendangkan lagu-lagu di album mereka, Lukas Forchhammer selaku frontman kerap berinteraksi dengan penonton dan membuat pertunjukan musik tersebut lebih hidup. Sebut saja, cerita-cerita kurang menyenangkan dari masa kecilnya. Dalam atmosfer yang dibalut nostalgia, pria kelahiran 1988 ini mengenang perjuangannya dalam mencari nafkah. We didn’t have the government or the system that can really help us. So we have to help ourselves,” tuturnya.

Di balik semua itu Ultimafriends, Lukas mengaku masa kecilnya tetap layak disyukuri. Bagaimana pun, keluarganya selalu mengajarkan kasih sayang dan kebahagiaan di masa-masa sesulit apa pun. Masa lalu tersebut juga yang membuat ayah dari satu anak ini memahami bahwa materi bukanlah sumber utama kebahagiaan. I wish I could teach my children that too because they don’t grow up like I did,” tambahnya sebelum menyanyikan lagu Happy Home yang mengisahkan tentang mendiang ayahnya.

Banyak berkaca pada perjalanan hidupnya, pria yang malam itu mengenakan batik motif garuda dan snapback hitam itu menyampaikan bahwa berbagi dengan sesama menjadi sesuatu yang penting untuk dilakukan, tak peduli hidup kekurangan maupun berkecukupan. “I bought myself a big house and what I’m trying to do instead of building fences is build the longer tables so I can feed more people,” ceritanya.

 

Lukas Graham mengenakan kemeja batik bermotif garuda dan snapback hitam

Lukas yang berkeliling dunia untuk Purple Tour sejak awal tahun ini sempat mengalami dilema mengingat ia sibuk berada di belahan dunia lain sedangkan anaknya berada di rumah. Pertanyaan retoris sempat terlontar, “On the other hand I’m making the money to make sure my daughter has a proper education. So it’s okay, right?”

Meski pekerjaan seringkali membuatnya jauh dari keluarganya, lagu yang berjudul Lullaby dalam Lukas Graham (Blue Album) menjadi bukti bahwa jarak tidak membuat hubungan dengan keluarganya menjauh. Semua ini tergambar dari intro lagu tersebut yang merupakan bunyi detak jantung sang buah hati, direkam sejak masih dalam kandungan dan ditulis pada dua minggu setelah anak tersebut lahir. Manis banget ya, Ultimafriends?

Lukas memperkenalkan Mark Falrgen, drummer band-nya yang juga teman semasa SMA

Sayangnya, penonton yang duduk di kategori Diamond VVIP dan Gold VIP tidak ikut sing along atau berdiri dari tempat duduk. Seakan-akan tersirat bahwa tidak semua penonton konser Lukas Graham tadi malam merasa excited dengan penampilan grup band asal Denmark ini.

Akhirnya terlontar pernyataan dari Lukas, “From where I from, nobody sits down on a concert,” yang juga merupakan ajakan untuk berdiri. Padahal, lagu-lagu yang dibawakan tidak terlalu asing seperti Drunk in The Morning, String No More, tidak lupa single yang baru dirilis beberapa hari lalu, Lie. Namun, lama kelamaan, tepatnya di penghujung konser, seisi The Kasablanka Hall kompak menyanyikan Love Someone dan membuat Lukas terkesima. Ia sampai berlutut dengan ekspresi speechless!

Masih banyak kota-kota yang akan dikunjungi Lukas Graham di The Purple Tour ini sampai akhirnya ia menutup konsernya di Copenhagen, Denmark. Semoga seluruh konsernya berjalan lancar dan dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan baik bagi Lukas maupun penggemarnya ya, Ultimafriends!

Foto: Berbagai sumber
Editor: Vania Evan

107.7 UMN Radio [CT]

Current track
TITLE
ARTIST