OMB Online? Gimana Tuh?

Written by on August 18, 2020

“Panitia pun sudah sangat mempersiapkan diri. Tidak hanya secara teknis maupun konten, tetapi juga semangat. Harapannya, sebelum teman-teman di-admit di waiting room Zoom, teman-teman sudah mempersiapkan semangatnya juga.”

– Regine Meliani, Ketua OMB UMN 2020.

Di tengah pandemi Covid-19, tak sedikit orang mempertanyakan eksistensi dan pelaksanaan orientasi mahasiswa baru yang sejatinya merupakan event tahunan wajib bagi setiap kampus. Kondisi ini juga terjadi pada pelaksanaan orientasi mahasiswa baru, atau yang disingkat dengan OMB, di Universitas Multimedia Nusantara. Akibat situasi yang tak kunjung kondusif, OMB UMN 2020 dilaksanakan secara virtual. Hal tersebut menjadi tantangan baru bagi segenap panitia. Pasalnya, OMB ini merupakan OMB virtual perdana di UMN.

Terlepas dari format pelaksanaannya, seluruh panitia OMB UMN 2020 terus berupaya menembus stigma jarak dalam orientasi virtual serta menghadirkan esensi utama acara dengan balutan teknologi. Buat Ultimafriends yang masih bertanya-tanya soal OMB virtual, you better hang on here and read the whole article! Kali ini, tim reporter sudah menghadirkan wawancara bersama Ketua OMB UMN 2020 Regine Meliani seputar eksistensi dan pelaksanaan OMB UMN 2020. So here it is, a remedy to cure your curiosity.

Ketua OMB UMN 2020 Regine Meliani saat diwawancarai tim reporter melalui Zoom pada Senin (10/08/2020) (Foto: Gregorius Amadeo)

Kendala apa yang dialami pihak OMB dalam mengubah OMB on site menjadi OMB virtual seperti sekarang?

Pertama penyesuaian, ya. adaptasi. selama ini teman-teman panitia ‘kan tahunya bagaimana cara melaksanakan OMB on site, atau offline. Jadi, kita semacam nggak punya guidebook. Akan tetapi akhirnya kita bisa find-a-way untuk menyelesaikan itu. 

Kedua, kendala teknis karena kembali lagi, ini adalah hal baru. Biasanya kita menguasai teknis yang berkaitan dengan perlengkapan (fisik), seperti beli tali rafia, papan, (dan juga) tongkat. Sekarang, kita harus menguasai teknis perlengkapan-perlengkapan virtual, seperti Zoom, teknis YouTube, dan sebagainya yang membutuhkan waktu untuk belajar. Kendala lainnya mungkin jaringan, ya.

Bagaimana reaksi panitia saat diputuskan OMB UMN 2020 akan dilaksanakan secara virtual?

Wah, kalo ini sih pasti rahasia umum, ya. Teman-teman panitia OMB kaget, terus sempat bingung juga, ada yang sedih juga. Cuma untungnya teman-teman OMB sudah bisa menyikapi secara dewasa. Jadi, (kaget, bingung, dan sedihnya) nggak berlarut-larut banget dan sekarang jatuhnya sudah excited lagi dalam melaksanakan OMB (dengan format) yang baru ini. 

“Wah, kampusmu kok ospeknya online?” kata salah satu kerabat tim reporter. Lalu, bagaimana reaksi orang-orang terdekat Anda ketika tahu OMB daring?

Awalnya, mirip-mirip lah sama jawaban pribadiku sendiri, “Kok online, ya?” Padahal, akan lebih seru jika on site karena memang (kita) tahunya selama ini (OMB itu) on site. Tetapi nggak terlalu berpengaruh, sih, karena orang-orang terdekatku (tetap) suportif Selain itu, memang begini realitanya. Harus tetap harus dijalani, walaupun bisanya secara virtual.

Apa upaya yang dilakukan untuk mengembalikan dan mempertahankan semangat panitia dalam mempersiapkan dan melaksanakan OMB virtual ini?

Pasti peran terbesar berasal dari diri mereka sendiri. Selain itu, tetap ada upaya dari teman-teman BPH (Badan Pengurus Harian) dan koor─koordinator divisi─yang berusaha dengan caranya masing-masing karena setiap divisi memiliki kondisi berbeda. Para koor yang lebih aktif untuk langsung meng-approach teman-teman anggota. 

Untuk upaya yang secara umum dilakukan sama teman-teman OMB sih komunikasi, sharing. Kami nggak berusaha menutup-nutupi kalau memang misalnya ada perasaan sedih atau kecewa supaya jatuhnya nggak berpura-pura bahwa everything is fine. Kami menerima kondisi yang tidak sesuai dengan rencana awal, dan itu nggak apa-apa. Harus move on, belajar menerima, legawa, terus saling menyemangati. Intinya, harus bisa menerima dulu.

Salah satu kendala pelaksanaan OMB virtual adalah jaringan internet. Bagaimana pihak OMB menyikapi jika terjadi kendala pada jaringan internet panitia? 

Kami sudah mengalami kendala ini sewaktu rapat pleno, dan simulasi. Jadi, kami dari awal berusaha mengantisipasi, entah itu mengimbau teman-teman panitia untuk meminjam device lain hingga menyiapkan koneksi serta alternatif-alternatifnya untuk hari-H. Akan tetapi kita ‘kan nggak tahu hari-H gimana. Seandainya terjadi putus koneksi pun, kami sudah mempersiapkan diri setiap panitia untuk mem-back up panitia lain. Jadi memang setiap divisi sudah di-briefing untuk tidak hanya menguasai jobdesc divisinya, tetapi juga divisi lain. Selain itu, ada pula prosedur-prosedur yang sudah kami siapkan jika terjadi kendala jaringan.

Akibat pelaksanaan OMB secara online, konten apa saja yang sulit disampaikan kepada mahasiswa baru sehingga menjadi tantangan bagi panitia OMB tahun ini?

Kalau berkaca dari pelaksanaan OMB on site sebelumnya, kesulitan kami adalah pada konten yang mengandung aktivitas-aktivitas fisik. Misalnya, jelajah kampus yang memang kegiatannya adalah berjelajah (berkeliling kampus), lalu konten dinamika kelompok yang memang dikenal dengan interaksinya yang intens dan aktif serta penuh dengan gerakan. 

Tapi akhirnya kalau di OMB virtual kali ini, kami lihat dari kacamata esensinya aja, sih. Maksudnya, apa yang berusaha dicapai dari jelajah kampus? Untuk mengenal fasilitas. Ya sudah, kami usahakan esensi itu tetap tersampaikan, misalnya dengan memanfaatkan teknologi UMN 360. Lalu untuk dinamika kelompok, kami pakai software-software baru atau software-software yang dapat digunakan (untuk mendukung kegiatan). Kalau kesulitan konten (sebenarnya) nggak terlalu menyusahkan, sih, karena kita lihat lagi ke esensinya, begitu.

Kemudian untuk menanamkan character building. Mungkin selama ini mindsetnya (orang-orang), character building itu munculnya dari interaksi langsung yang masih dikonotasikan dengan jarak. Padahal, di OMB daring ini kita tidak menghilangkan interaksi tersebut. Akan tetap ada interaksi, tetap ada teamwork-nya, hanya saja dengan delivery yang berbeda. Semisal adanya delay atau bantuan fitur-fitur tertentu dalam mewujudkan teamwork-nya.  Jadi, strateginya adalah kita tetap mengoptimalkan untuk esensi itu tadi serta mengusahakan interaktivitas. Makanya, agak kompleks, ya di OMB tahun ini, karena kami berusaha memaksimalkan apa yang kami punya.

Bagaimana cara mempererat hubungan antara panitia dengan mahasiswa baru, meskipun OMB dilakukan secara virtual?

Di OMB ada konten dinamika kelompok. Dinamika kelompok itu belajar tentang wawasan, tentang nilai, dengan cara yang menyenangkan. Dinamika kelompok tetap ada tahun ini, dan (seperti yang telah disebutkan tadi) kami akan membuat konten tersebut kembali ke esensinya. Esensi dari dinamika ini adalah untuk menyampaikan value dan wawasan kepada teman-teman (mahasiswa baru). Soal cara delivery-nya itu nomor dua. Jadi ya untuk mempererat (hubungan panitia dengan mahasiswa baru), untuk bonding, itu akan tetap bisa dilakukan, yakni dengan adanya interaksi dan teamwork itu tadi. Semua ini sudah dipersiapkan sistemnya oleh teman-teman (panitia) juga agar semua anggota kelompok kedapatan (berpartisipasi) dan semua merasa terlibat.

Apa sisi positif yang bisa ditonjolkan dari OMB virtual dan mungkin tidak bisa diperoleh dalam OMB on site?

Sisi positif yang bisa ditonjolkan itu kita jadi lebih dekat karena kita bisa benar-benar melihat wajah peserta ataupun panitia satu per satu. Menariknya, (dengan format pelaksanaan virtual) kami semua kelihatannya jauh. Padahal sebenarnya, justru terasa lebih dekat gitu. Kalau dulu mahasiswa baru sering takut bertanya karena malu dilihat (banyak orang), sekarang mau bertanya atau nggak juga akan tetap dilihatin. Wajahnya mereka tetap kelihatan satu per satu.

Kedua, risiko fisik menjadi lebih rendah. Biasanya dari tahun ke tahun, (kami) takut banyak yang pingsan, baik karena kepanasan saat upacara, atau karena perpindahan yang intens. Sekarang hal itu jadi berkurang. Lalu gimana caranya untuk menonjolkan ini (sisi positif) ke teman-teman maba? Sebenarnya sih, apapun yang mereka hadapi, mau itu on site atau online, OMB adalah hal baru buat mereka. Akan tetapi dengan OMB daring ini akan plus lagi hal barunya, karena ini (OMB online) benar-benar sejarah baru. Mungkin tahun-tahun berikutnya nggak akan ada lagi OMB online. Harapannya dengan mereka enjoy dan benar-benar menemukan experience dalam OMB ini, dengan sendirinya bisa semakin tertonjolkan sisi positif OMB online untuk mereka.    

Apa tolok ukur bagi panitia untuk mengetahui bahwa mahasiswa baru sudah menyerap dan memahami nilai-nilai yang disampaikan selama OMB online/virtual?

Tolok ukurnya nanti di akhir acara akan ada survei atau angket yang diisi guna mengevaluasi tingkat pemahaman mereka. Kedua, melalui tugas-tugas, melalui interaksi di lapangan, gimana saat sesi QnA, saat kuis. Dari situ ‘kan bisa langsung kelihatan. Ketiga, dari PIC (Person in Charge)-nya (Sayaka) dengan mabanya secara langsung karena mereka akan stay together after OMB. Jadi, mereka (Sayaka) yang akan benar-benar tahu bagaimana kelanjutan perkembangan mabanya. Bahkan, mereka nggak hanya tahu, tapi juga bisa berusaha untuk me-remind dan mem-follow up lagi hal-hal yang didapat dari OMB dan implementasinya di kehidupan mereka waktu berkuliah. 

Apakah penugasan untuk menghasilkan karya-karya unik dalam kelompok akan tetap ada dalam OMB virtual ini? 

Tetap ada. Memang output-nya semua berubah menjadi virtual. Tetapi hal ini justru menjadi kesempatan bagi mereka untuk mengaktualisasikan (hasil penugasan) ke media sosial. Itu juga salah satu sisi positifnya, ya. Jadi, penugasan yang mereka buat susah-susah bisa mendapat respons, ‘Wah, ini bagus banget, nih!’ di media sosial. Kalau di OMB on sitekan paling yang lihat hanya teman-teman kelompok lain, panitia, atau insight kampus aja. Tapi, kalau sekarang bisa diaktualisasikan melalui media sosial.

Menurut Anda, mengapa OMB tetap penting dilakukan walau secara virtual?

Mungkin sama seperti yang aku udah sempet bahas. Delivery itu bukan segala-galanya, ya. OMB berarti karena tujuan dari OMB itu sendiri, bukan karena itu on site ataupun online. Hal ini yang penting dan kita jadikan koridor bekerja dalam OMB UMN 2020. Kalau boleh diibaratkan, misalkan kita punya uang seratus ribu harus dibayarkan (ke orang lain), nih. Terus, mau lewat mana pun kita membayarnya, value si seratus ribu ini, ya tetap seratus ribu. Mau itu caranya lewat cash, mau lewat debit, atau mau lewat transfer, yang penting saat sampai ke penerimanya, valuenya harus seratus ribu, nggak boleh berkurang. Itu yang mau kita jadikan patokan di OMB. Bukan soal cara delivery-nya, tapi soal esensinya. OMB akan tetap penting karena mahasiswa baru perlu tahu wawasan, perlu tahu nilai, dan perlu merasa disambut sebelum berkuliah. 

Kesan dan pesan dari Kak Regine untuk Ultimafriends yang membaca artikel ini.

Teman-teman mahasiswa baru atau peserta OMB lainnya, ini jadi bagian sejarah baru oleh banyak pihak. Nggak hanya kampus atau panitia, tetapi untuk teman-teman juga. Jadi, persiapkan diri karena panitia pun sudah sangat mempersiapkan. Tidak hanya secara teknis maupun konten, tapi semangat kita benar-benar sudah kita persiapkan banget. Jadi, harapannya teman-teman yang datang ke OMB, sebelum di-admit atau di waiting room itu sudah mempersiapkan semangatnya juga, gitu. Kita sama-sama saling belajar dan punya experience yang nggak bakal terlupakan.

Editor: Theresia Melinda Indrasari

[There are no radio stations in the database]