NAIK ROLLER COASTER BIKIN SENANG ATAU TEGANG?

Written by on April 2, 2019

Ultimafriends suka nggak sih main di amusement park semacam Dufan? Atau kamu bertanya-tanya, kenapa sih banyak orang yang suka naik wahana-wahana yang memacu adrenalin? Wahana-wahana di amusement park atau yang bahasa Indonesia-nya taman hiburan ini memang menyeramkan bagi Ultimafriends yang punya fobia tinggi.

Kingda Ka, roller coaster tertinggi di dunia yang terletak di taman hiburan Six Flags, Amerika Serikat

Roller coaster nggak dibuat secara sembarangan atau untuk nakut-nakutin lho, Ultimafriends. Untuk membuat sebuah roller coaster, ada sekelompok perancang di baliknya. Tugas perancang ini adalah menentukan kapan kereta akan melambat, kapan kereta akan melaju cepat, berapa batas waktu dalam satu kali perjalanan, dan berapa derajat rel menukik. Banyak banget kan komponen yang harus dipikirkan untuk membuat roller coaster ini? Semua hal itu dipikirkan bukan tanpa tujuan.

Kalau menurut Verren, salah satu mahasiswa UMN yang juga pecinta roller coaster, ia senang menaiki wahana ini karena seru melihat reaksi teman-temannya. “Kalo menurut gue, roller coaster lebih ke thrilling dibandingkan nakutinMemang bikin deg-degan, tapi asyik banget kayak ada kepuasan tersendiri pas teriak-teriak,” akunya saat ditemui tim reporter. Namun, apakah itu satu-satunya hal yang membuat wanita 20 tahun itu senang?

The Try Guys, sekelompok youtuber dari Amerika Serikat, berkesempatan mencoba salah satu roller coaster yang hendak diresmikan di California. Dalam video tersebut, mereka bertemu dengan Rob Decker, seorang Senior VP Planning dan Design yang telah merancang roller coaster bernama Hangtime di Knotts Berry Farm, California. Roller coaster yang dirancangnya berjenis dive roller coaster pertama di California. For your information, Ultimafriends, dive merupakan roller coaster dengan turunan menukik 90 derajat ke bawah. Rob Decker siap membuat jantung Ultimafriends berdegup lebih cepat lagi karena roller coaster yang dibuatnya menukik 96 derajat. Ada tahapan-tahapan ‘mengerikan’ saat menaiki roller coaster, yaitu drops dan inversion.

Menurut Rob, tubuh akan mengalami yang dinamakan negative g-forces saat menaiki roller coaster yang gerakannya jatuh (drops). Nah, bagaimana cara yang dilakukannya mampu membuat penumpang wahana ini mengalaminya? Jadi, saat kereta di rel hendak meluncur ke bawah, kereta akan melambat dan berhenti sementara, yang membuat penumpang melihat seberapa tinggi mereka akan jatuh dan merasakan airtime—ekspresi yang dirasakan penumpang ketika mereka bangkit dari kursi mereka selama perjalanan. Saat itulah tubuh memicu produksi hormon kortisol. Hormon ini mampu membuat penumpang mengendalikan rasa stres dan menjaga tekanan darah tetap normal.

Dalam video yang sama, seorang Emergency Medical Technician (EMT) bernama Vicky mengatakan, saat menaiki roller coaster, peredaran darah akan terpompa menuju kepala saat tahap drops dan menuju kaki secara cepat saat inversion. Detak jantung akan berdetak dua kali lebih cepat dan otot halus yang berada di paru-paru akan berkontraksi sehingga membuat penumpang roller coaster menghirup napas dalam-dalam.

Ternyata perasaan menyenangkan saat naik roller coaster nggak hanya terlihat di luar ya, Ultimafriends, tapi juga di dalam tubuh. Nah, setelah mengetahui fakta di balik ketegangan yang dirasakan saat menaiki wahana ini, kamu mau naik lagi nggak?

Foto: Berbagai sumber
Editor: Aurelia Gracia

107.7 UMN Radio [CT]

Current track
TITLE
ARTIST