Menjadi Mahasiswa, Kejar IPK dan Aktif Organisasi Barengan?

Written by on August 12, 2021

“Que será, será. Whatever will be, will be. The future’s not ours to see. Que será, será. What will be, will be”

Potongan lirik di atas berasa dari lagu Doris Day yang telah di-cover beberapa kali. Lirik tersebut berusaha menjelaskan pertanyaan seseorang yang bertanya-tanya tentang masa depannya.

“Akan menjadi apa aku nanti?”

Nah, pertanyaan ini sering diajukan saat Ultimafriends mulai menginjakkan kaki di dunia kuliah. Harus diakui, kondisi seperti ini wajar muncul di benak banyak calon mahasiswa yang masih bertanya-tanya dengan dunia baru yang akan dimasuki. Perguruan tinggi menyajikan banyak kondisi baru, bahkan pola aktivitas kamu dikembalikan kepada setiap individunya. Tidak seperti masa putih abu-abu saat kita masih terbiasa disuapi dengan pemahaman yang harus kita telan.

Keadaan ini seakan memberikan calon mahasiswa pertanyaan, akan menjadi mahasiswa seperti apa nantinya? Setiap jalan yang ditempuh tentunya tidak ada yang salah dan kembali kepada referensi setiap insan. Rencanamu tidak sama dengan rencanaku.

Apakah aku lebih baik mengejar nilai tinggi agar kelak cepat lulus dan bergelar cumlaude? Apakah aku aktif ikut ini dan itu agar koneksi dan kemampuan semakin terasah?

Tidak perlu bergundah hati, Ultimafriends. Terdapat hal yang bisa kamu prioritaskan untuk membantu menentukan arah langkah kamu sebagai mahasiswa. Kamu dapat mempertimbangkan untuk menjadi aktif berjejaring dan berorganisasi dengan tetap mengejar nilai terbaik. Tenang, tidak seberat itu, kok. 

Salah satu pesan untuk membantu mengarahkan itu adalah “Mau menjadi apa kamu nanti?”

Hal ini penting karena dengan bisa menjawab pertanyaan ini, kamu sudah bisa mempertimbangkan pola berkuliah yang sesuai dengan kemampuan. Menemani kamu berkontemplasi, berikut pengalaman alumni yang dapat menjadi pertimbangan.

Salah satu alumni UMN Radio, Alfonsus Setiaji menyampaikan kalau dirinya berupaya mengejar target 3,5 tahun lulus. Tindakan itu dasari atas kemungkinan mencari lapangan pekerjaan semakin cepat dan dapat menghemat pengeluaran. Di sisi lain, pria yang biasa disapa Fonsus ini menjelaskan bahwa ingin mengembangkan lagi soft skill melalui pilihan komunitas yang ada di kampus. 

Tantangan untuk dapat menjalani beragam aktivitas adalah tuntutan membelah diri. Berharap lahir sebagai amuba agar bisa mengerjakan skripsi, freelance, dan mengurusi kepanitiaan pada satu waktu yang sama. Namun, bukan untuk diratapi, kondisi seperti itu dihadapi dengan konsekuensi. Selama pilihan tersebut sudah disanggupi sejak awal dan berasaskan minat, berlelah ria terasa lebih menyenangkan.

Sebuah kisah menjadi amuba di atas tidak datang dengan konsekuensi. Fonsus harus merelakan waktu santai dan nongkrong yang dimiliki. Pilihan tersebut berada di balik kunci utama untuk dapat bertahan di kondisi tersebut dengan manajemen waktu yang baik. 

Bisa saja ajak teman-temanmu ikut organisasi yang sama supaya bisa tetap nongkrong bersama seusai rapat. (Sumber foto: Dok. UMN Radio) 

Melakukan pola yang sama seperti Fonsus dapat membawa keuntungan bagi kamu. Menurut Carmelia, dkk (2018) terdapat korelasi antara kecerdasan emosional dengan kinerja pekerjaan. Jurnal tersebut menyatakan bahwa mahasiswa dengan kecerdasan emosional yang baik cenderung memiliki kinerja pekerjaan (job performance) yang bagus. Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memikirkan dan menggunakan emosi untuk meningkatkan kemampuan berpikir.

Hal ini bagus untuk pengembangan diri kamu seperti bekal bagi ke depannya. Dalam jurnal itu juga disebutkan etos kerja seseorang dapat berkembang dengan turut aktif di sebuah organisasi. Nah, UMN Radio bisa menjadi salah satu pertimbangan arah langkahmu untuk maju, lho, Ultimafriends. Banyak hal yang bisa dipelajari melalui organisasi ini. Mulai dari belajar menyiapkan konten hingga memahami pola promosi media.

Namun, penting juga untuk mengenali manfaat dari pilihan kamu. Saran saat hendak memilih jawabannya yaitu mempertimbangkan dampak (impactful). Ketika Fonsus mengikuti komunitas kampus, pertimbangan yang muncul adalah pengembangan diri. Jika iya, dia akan memprioritaskan hal tersebut. Membahas tentang dampak, hal ini bukan template seragam yang bisa diimplementasikan semua orang. Oleh karena itu, penting untuk mencari tahu apa hal yang kamu nilai berdampak untuk hidup kamu di perkuliahan ini.

Hidup bak domino, jatuh satu akan berdampak bagi domino berikutnya. Domino mana yang kamu jatuhkan akan berdampak bagi langkah selanjutnya?

Persiapkan diri untuk menjawab pilihan tersebut, Ultimafriends. Kembali lagi seperti pertanyaan yang diajukan Hindia pada lagu “Untuk Apa / Untuk Apa?”

Dan dahulu kau bertanya untuk apa?

Editor: Elizabeth Chiquita Tuedestin P.
Feature Image: MD Duran on Unsplash  


107.7 FM UMN Radio

Current track
TITLE
ARTIST