UMN Info

Mengeksplorasi Potensi Diri dalam The Mystical Forest Mentoring UMN 2022

todaySeptember 11, 2022 5 2

Background
share close

Siapa yang gak kenal dengan acara Mentoring di UMN? Pasti sudah familiar ya, Ultimafriends! Acara tahunan yang diperuntukan untuk membangun karakter para mahasiswa baru ini kembali hadir dengan tema “Expand Opportunities Through Your Potential”.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, Mentoring UMN tahun ini dilaksanakan secara luring mengingat perkembangan kasus Covid-19 yang kian membaik. Wah, semakin kebayang ‘kan keseruannya?

Kali ini, Reporter mendapat kesempatan untuk ikut dalam salah satu sesi Mentoring yang sangat seru dan pastinya membuat Reporter mengenang masa-masa Mentoring daring Reporter di tahun lalu, cielah….

Mentor yang sedang menyambut para mentee di dalam kelas. Foto: Darlene Verica Angel.

Di sesi ini, para mentees melanjutkan perjalanan mereka dari sesi pertama, “The Maze”, menuju “The Mystical Forest” dimana mereka dihadapi dengan berbagai tantangan baru.

“Halo, kak Daniel!”, ucap salah satu mentee dengan antusias ketika memasuki ruangan Mentoring mereka di kelas C1007. Sesi pagi itu dimulai dengan Daniel Kurniawan, mentor kelompok 30, yang melakukan ice breaking serta mengobrol dengan para mentees.

The Ancient Gate

Setelah mengobrol untuk beberapa waktu, tantangan dan permainan dalam kegiatan Mentoring pun dimulai. 

“Aaaaa, aaaaa…”

Suara teriakan seorang anak kecil terdengar dari layar. Ternyata, para mentees harus membebaskan sang anak dengan membaca mantra spesial yang ada di layar

“Dengan kepedulian dan rasa tanggung jawab, gerbang ini dapat dibuka!”, demikian tulisan yang terlihat di layar. Serentak, seluruh kelompok 30 meneriakkan mantra tersebut dan sang anak pun terbebas.

Open The Jail

Stage ‘Open The Jail’ yang mengharuskan para mentees untuk berdiskusi. Foto: Darlene Verica Angel.

Perjalanan para mentees berlanjut. Mereka harus mencari solusi untuk membuat sang anak dan warga desa lain yang sudah terperangkap lama semakin maju. “Kalian harus mencari solusi berdasarkan jurusan kalian ya, coba dipikirkan,” jelas Daniel, sang mentor.

Beberapa jawaban yang kreatif dan inovatif pun muncul dari para mentees. Untuk menyelamatkan warga desa tersebut, mentee dari jurusan Jurnalistik ingin membuat liputan dan berita, mentee dari jurusan Desain Komunikasi Visual berencana untuk membuat sebuah peta tata letak desa, dan seorang mentee dari jurusan film memiliki ide untuk membuat sebuah film dokumenter.

Jawaban-jawaban tersebut akhirnya membuat para warga desa terbebas. Namun, perjalanan mereka belum berakhir sampai disana.

Fight The Witch

Mentees yang sedang berbaris untuk memulai permainan dalam stage Fight The Witch. Foto: Darlene Verica Angel.

Dalam cerita tersebut, para warga desa bertemu dengan penyihir yang jahat. Untuk melawannya, para mentees berbaris ke belakang. Orang yang ada di paling depan akan diberikan beberapa kata-kata yang nantinya dipakai untuk melawan si penyihir. Setelah itu, setiap mentees akan menirukan gaya mentee lain dan membawa pesan itu hingga ke orang terakhir. 

Salah satu mentee yang sedang memperagakan gaya yang ia terima sebelumnya. Foto: Darlene Verica Angel.

Kesulitan mereka hadapi karena setiap mentee harus mengingat gaya yang ditunjukkan mentee sebelumnya. Ditambah, mereka juga tidak diperbolehkan untuk berbicara. 

Ketika sampai di mentee terakhir, pesan yang tersampaikan sedikit berbeda. Untungnya, pesan tersebut masih cukup untuk melawan sang penyihir jahat.

 

Set the Dragons Free

Keseruan permainan dan arahan para mentees dalam stage ‘Set The Dragons Free’. Foto: Darlene Verica Angel.

Terakhir, para mentees harus membebaskan naga-naga yang terperangkap. Mereka membentuk sebuah lingkaran, saling membelakangi, dan memakai penutup mata. 

Pinggang mereka diikat oleh seutas tali rafia yang disambungkan dengan satu sumpit di tengah lingkaran. Misi para mentees adalah untuk memasukkan sumpit tersebut ke dalam botol sambil mendengarkan arahan tiga orang mentees yang matanya tidak ditutup.

“Kamu, kamu, kamu, mundur sedikit,” ujar Stefanny, salah satu mentee yang bertugas memberikan arahan. “Ehhh, sabar-sabar jangan maju dulu,” ujarnya lagi ketika ada mentee yang gegabah untuk bergerak.

Lima menit pun berlalu sampai akhirnya para mentees berhasil memasukkan sumpit tersebut ke dalam botol.

“Masuk guys!”, teriak salah satu mentee yang memberikan petunjuk.

Serentak semua mentee membuka penutup mata mereka dan bertepuk tangan.

 

Mentor Kelompok 30 yang sedang memberikan badge hari ini. Foto: Darlene Verica Angel.

Sesi Mentoring “The Mystical Forest” ditutup dengan refleksi oleh kak Daniel, selaku mentor, yang memberikan dua buah badge untuk para mentees, yaitu badge Caring dan Credible.

Itulah sedikit cuplikan liputan Reporter untuk sesi Mentoring kali ini, semoga Mentoring UMN 2022 dapat terus menjadi wadah untuk para mentees mengembangkan diri mereka. Semangat ya, Ultimafriends yang tergabung dalam Mentoring 2022!

 

Featured Image: Darlene Verica Angel

Editor: Stephanie Risyana

Written by: Darlene Verica

Rate it

Previous post

CAMPUS TALK

The First Week of Onsite Campus Life: Which One Are You, Ultimafriends?

Wow, Ultimafriends! Kerasa gak sih belakangan ini kita udah mulai menjalani kuliah secara offline? Rasanya baru kemarin bangun tidur, mandi sebentar, dan langsung buka laptop untuk kelas online. Sekarang, rutinitasnya sudah berbeda, ya! Bangun tidur lebih pagi, mandi, bersiap, berangkat ke kampus, dan masuk kelas.  Nah, Reporter menyadari bahwa ada beberapa tipe mahasiswa yang muncul di kala kuliah offline. Penasaran ada apa saja? Mungkin salah satu di bawah ini itu […]

todaySeptember 10, 2022 10


0%