Memahami Konsensual Sebagai “Awal”

Written by on July 12, 2021

Ultimafriends, raise your hand if you already read the article that talks about sexual harassment at UMN! Now hands down.

Bahas tentang pelecehan seksual itu…, cukup rumit nih Ultimafriends.  Namun, di artikel ini gue mau ngomongin tentang salah satu hal dasar untuk membedakan mana perlakuan yang merupakan pelecehan seksual dan bukan, yakni consent

Consent dapat dipahami sebagai persetujuan kepada orang lain untuk melakukan sesuatu. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang mengaitkan consent sebagai lampu hijau untuk berhubungan seksual. Yah…, padahal konsepnya enggak sesempit itu, Ultimafriends 🙁

Gue punya satu contoh yang (semoga) dapat semakin mencerahkan pemahaman lo tentang consent. Ada sebuah video di Youtube yang menampilkan para pemain film “Ali & Ratu Ratu Queens”. Ceritanya, mereka mendapat challenge untuk ngegombalin Iqbal Ramadhan, Ultimafriends. Pada detik 6.45, Marissa Anita ngomong kayak gini.

“… And also run through my finger to your hair. Is that okay?” 

“Would it be okay?”

Marissa Anita meminta persetujuan Iqbal sebelum menyentuh rambutnya (Sumber: YouTube Netflix)

And that’s what I called by asking for consent! Walaupun hanya sekadar menyentuh beberapa helai rambut Iqbal, Marissa tetap harus bertanya ‘is that okay’ untuk mendapatkan consent dari Iqbal terlebih dahulu. Hubungan mereka juga jelas-jelas bukan hubungan romantik. Artinya, consent enggak cuman berlaku untuk pasangan dengan hubungan romantik aja, tetapi juga kepada teman, keluarga, hingga orang asing sekalipun ketika mereka ingin melakukan sesuatu kepada kita, apalagi jika melibatkan sentuhan fisik. 

Tanpa Consent = Pelecehan Seksual

 

 

Tweet yang memuat video Dinar Candy dipeluk orang tidak dikenal (Sumber: Twitter)

Baru-baru ini juga ada satu tweet viral yang berisi video Dinar Candy yang di-touch oleh orang yang tidak dikenal tanpa consent. Makanya, wajar-wajar saja apabila Dinar berteriak dan memberontak dari ‘pelukan’ pria tersebut. Yang sangat disayangkan adalah video ini awalnya dipublikasikan oleh salah satu stasiun televisi terkenal di Indonesia.

Secara tidak langsung, video ini seolah menormalisasikan ‘menyentuh’ orang lain dengan seenaknya dan tanpa adanya consent terlebih dahulu. Padahal, tanpa adanya consent, tindakan menyentuh tersebut dapat dipahami sebagai pelecehan seksual sehingga bisa-bisa saja diajukan ke ranah hukum. Perihal hukuman kepada si pelaku, akan tim reporter bahas lebih dalam lewat artikel selanjutnya, ya!

Jawaban Consent Hanya Berupa ‘Yes’ atau ‘No’

Perlu dipahami juga kalau consent hanya memiliki dua jawaban, yakni iya dan tidak. Jika doi ragu-ragu ataupun diam, lo enggak bisa langsung menyatakan kalau doi setuju. Malah diam itu lebih diakui sebagai ‘tidak’ daripada iya. Selain itu, jika doi diam kemudian dibujuk beberapa kali (atau bahkan dipaksa) untuk mengatakan ‘iya’, hal itu juga bukan merupakan consent

Bentuk persetujuan consent juga bisa berupa komunikasi non-verbal, loh Ultimafriends. Misalnya A sedang nonton bioskop bersama B. Tiba-tiba saja, B menggenggam tangan A saat pertengahan film. Dalam situasi tersebut, A memiliki dua pilihan: menolak atau memberikan izin. Jika A menolak, ia memiliki kebebasan untuk menarik tangannya. Sementara itu, jika A mengizinkan B menyentuh tangannya, ia dapat menggenggam tangan B juga. Hal itu juga dihitung sebagai consent.

Respon consent secara non-verbal (Sumber: Bodytalk.org.au)

 

Consent Dapat Selalu Berubah

Sometimes, things move very fast. And it’s okay if you need more time to make sure that you are comfortable

Setiap saat, concent dapat berubah, bahkan dalam hitungan detik sekalipun. Mari kita lanjutkan analogi bioskop tadi. Saat pertengahan film, rupanya dari bergandengan tangan, B kini ingin merangkul A. Sayangnya, A merasa B ‘terlalu cepat’ dan tidak siap untuk menerima rangkulan B. Oleh karena itu, A memiliki hak untuk menarik concent sebelumnya dan menolak rangkulan tangan B. Mungkin saja, saat itu A hanya siap untuk bergandengan tangan saja. It’s okay to slow things down. 

Consent Dalam Pacaran

Well, Consent rupanya gak cuman mencangkup hubungan yang berkaitan dengan sentuhan fisik saja, melainkan juga hubungan emosional antara lo dan doi. Misalnya gini. A menganggap B serius dengannya dalam hal romantik, di sisi lain B menganggap A hanya sekadar teman. Padahal, di bioskop tadi, B sudah menggenggam tangan A bahkan mencoba merangkulnya. Bagaimana A tidak semakin salah paham? 

Coba pikirkan sekali lagi jika A mengetahui B tidak berniat memiliki hubungan serius dengannya. Tentu A tidak akan mengizinkan B menggenggam tangannya bukan? Karena itulah memperjelas status hubungan akan memengaruhi ada atau tidaknya concent di masa depan. Oleh karena itu, sebagaimana dikutip dari majalah DAN, dengan adanya kesepakatan arah hubungan sejak awal, hal itu akan memperkecil rasa disakiti dan menyakiti.

Beberapa hal yang perlu diketahui tentang consent (Sumber: Majalah DAN)

Different people might enjoy different things. Maybe you love holding hands but hate a hug. Or perhaps you want her/his fingers running tenderly through your hair but not ready for a kiss. That’s why it’s important to talk about it so you can feel comfortable in your relationship. 

And when you feel uncomfortable, remember, you have the right to say ‘no’ and change your mind at any time about your consent.

Editor: Elizabeth Chiquita Tuedestin P.

 

 

 


107.7 FM UMN Radio

Current track
TITLE
ARTIST