Kesadaran Rendah Penyelenggara Festival Musik dalam Membayar Royalti Musisi

Written by on November 5, 2017

Jakarta, UMNRadio – Musik sejak zaman dulu sudah menjadi salah satu sarana hiburan yang paling banyak diminati oleh orang-orang. Orang dari segala kalangan, tidak terbatas oleh status sosial dan ekonomi, status pendidikan, usia maupun gender dapat menikmati musik. Dewasa ini orang-orang bisa mempopulerkan karyanya lewat banyak sarana, bahkan tanpa modal yang besar sekalipun. Sayangnya karena musik mudah dipopulerkan maka makin mudah juga sebuah karya seni suara ini dibajak oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Orang Indonesia masih memiliki kesadaran yang sangat rendah tentang kewajiban membayar royalti kepada musisi. Padahal, banyak individu maupun pelaku usaha yang secara sadar maupun tidak sadar sudah melanggar hak para musisi. Apa yang dimaksud dengan royalti dalam konteks ini? Royalti adalah uang yang dibayarkan kepada musisi sebagai bentuk tanggung jawab dari pihak yang menggunakan lagu tersebut. Banyak penyelenggara festival musik atau pengguna karya tersebut yang mungkin bertanya mengapa mereka harus membayarkan royalti ini, padahal mereka sudah membayar artis yang bersangkutan untuk membawakan lagu.
“Katakan saja Tulus, dia menyanyikan lagu dia sendiri dan dibayar sebagai penampil. Tapi dia sebagai composer mendapatkan royalty yang tadi (saya sampaikan). Kan bisa saja kasusnya begini, mungkin saja lagu yang dinyanyikan oleh Tulus bukan lagu karangan dia sendiri.” Ucap Ketua Panitia Wahana Musik Indonesia (WAMI), Chico Hindarto saat diwawancarai di Institute Francais, Jakarta.
Royalti ini sebenarnya adalah bentuk apresiasi pada pencipta lagu dalam bentuk ekonomis, karena banyak kasus composer musik yang lagunya amat terkenal dinyanyikan oleh artis lain, namun dirinya sendiri tidak mendapatkan keuntungan finansial dari lagu yang diciptakannya. Padahal royalti ini sebenarnya adalah hak yang harus diterima oleh composer lagu tertentu semasa hidupnya, dan tetap melekat sampai 70 tahun selepas kematiannya. Di Indonesia sendiri ada 3 lembaga yang ditunjuk menjadi perantara untuk menerima pembayaran royalti dari pihak pembayar ke composer yang bersangkutan, yaitu WAMI, KCI dan RAI.
Banyaknya penyelenggara festival musik dan pihak yang menggunakan karya composer seperti restoran yang memutarkan lagu di restorannya, mall, karaoke, bahkan radio dan tempat publik lainnya, membuat penerimaan royalti di Indonesia terhitung masih sangat kecil yaitu satu juta dollar Amerika Serikat pada tahun 2016 yang lalu. Angka ini sangat kecil bila dibandingkan dengan Jepang yang penerimaannya mencapai 1 Milyar dollar Amerika Serikat pada tahun 2016.
Sampai saat ini enyelenggara festival musik besar sekalipun banyak yang masih tidak membayar royalti , sebut saja Ismaya Group dengan acara besarnya seperti We The Fest dan Djakarta Warehouse Project yang ternyata baru akan mulai membayar royalty sejak tahun 2017.

Penulis : Harris K.J
Editor : Tiara Aprilia


[There are no radio stations in the database]