Jenis-Jenis Patah Hati dan Lagu Pengiringnya

Written by on September 26, 2020

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kembali diterapkan di Jakarta sejak 14 September 2020. Ketika PSBB pertama kali diberlakukan, Ultimafriends mungkin sudah banyak menyaksikan pasangan yang hubungannya kandas. Alasan berpisahnya pun bermacam-macam. Namun, pemegang tuas remnya tetap sama, pandemi Covid-19. PSBB memaksa sejumlah pasangan (dengan atau tanpa status) untuk menjalani long distance relationship (LDR) dadakan. Ada yang masih bertahan, ada yang sedang berjuang, ada juga yang merelakan satu sama lain.

Akan tetapi Ultimafriends, ternyata ada perbedaan cara melewati fase post-break up alias patah hati di masa pandemi. Jika biasanya kamu (dan tim reporter) memiliki berbagai opsi, seperti mencari kesibukan di luar atau berpergian bersama teman demi mengalihkan pikiran, akibat pandemi mau tidak mau kita harus melewati masa patah hati sendiri di dalam rumah. Mentok-mentok hanya dapat dihibur oleh teman-teman lewat panggilan video atau suara.

Oleh sebab itu, untuk menyambut kemungkinan adanya gelombang dua manusia-manusia patah hati selama PSBB tahap dua, tim reporter sudah menyiapkan rekomendasi lagu yang bisa menemani masa patah hati kamu. Toh, mau pandemi atau tidak, pada akhirnya semua kesedihan perlu kamu lewati sendiri. Times are surely tough and I hope you will heal faster.

Baru banget putus: Godspeed – Frank Ocean

Sulit untuk menerima kenyataan bahwa semua hal memiliki waktu kedaluwarsa, termasuk hubungan percintaan. Entah hal tersebut sudah direncanakan dari jauh-jauh hari atau baru terjadi secara dadakan, memutuskan hubungan dengan seseorang yang sudah saling memberi komitmen, energi, dan waktu untuk satu sama lain dalam beberapa waktu terakhir tidak akan terasa mudah. Ketika memutuskan untuk merelakan satu sama lain, tidak ada banyak hal yang dapat dilakukan kecuali memberi ucapan atau doa dari kejauhan.

Seperti judulnya, Godspeed merupakan lagu berisi ucapan atau doa baik kepada sosok yang sudah direlakan pergi. Lagu ini tidak memihak siapapun. Godspeed berlaku sebagai jaminan bahwa seseorang akan terus menyayangi mantan pasangannya dengan mendoakan dan mengharapkan hal-hal yang baik baginya.  Di samping itu, lagu ini juga mewakilkan rasa kehilangan yang begitu dalam. Lagu ini mengungkapkan bahwa posisi mantan pasangannya tidak mudah untuk tergantikan dalam hidupnya layaknya kutipan lirik dari lagu tersebut, “There will be mountains you won’t move.” Godspeed oleh Frank Ocean adalah salah satu lagu manjur untuk menemani sesi menangis pada pukul tiga pagi.

Korban ghosting di aplikasi cari jodoh: Where U Are – Rina Sawayama

Nah, ini nih, hal yang marak terjadi tapi kesedihannya kerap di-underestimate, Ultimafriends. Aplikasi cari jodoh memang sudah menjadi opsi sejak dulu. Namun, penggunaannya semakin merebak sejak terjadinya pandemi. Tanpa disadari, banyak orang mulai mencoba mencari pasangan melalui layar ponsel, entah untuk sekadar menjadi teman berbincang atau untuk menjadi partner menjalani hubungan serius. Melalui aplikasi cari jodoh, kamu dapat bertemu dengan orang-orang yang memiliki berbagai kecocokan tetapi mungkin berada pada jarak yang jauh sehingga tidak akan kamu temui jika tidak mengunduh aplikasi tersebut.

Di sisi lain, online dating tidak mewajibkan lawan bicara untuk membalas pesan. Akibatnya, mereka bisa datang dan pergi kapan saja. Tindakan lawan bicara yang pergi dan tidak membalas pesan secara tiba-tiba biasa dikenal dengan sebutan ghosting. Ketika ghosting terjadi, dengan ngikutin gaya ucapan Mang Oleh, rasanya gak enakkk banget. Rasanya serba salah untuk mau marah atau sedih, karena dianggap tidak punya hak untuk bertindak demikian. Mau cerita ke teman pun, mereka juga akan memberi reaksi yang sama bingungnya karena ikatan  antara kita dengan lawan bicara belum menjadi sesuatu yang nyata. 

Rina Sawayama, penyanyi asal Jepang yang menetap di Inggris, menggambarkan frustrasi online dating lewat lagunya Where U Are. Lagu tersebut berisi tentang keinginan seseorang untuk berada bersama orang yang ia temui di internet. Dalam lagu tergambar pula rasa takut dan gelisah yang dialami ketika lawan bicara sedang menghilang, pertanyaan-pertanyaan yang muncul untuk diri sendiri, dan berbagai kompleksitas online dating lainnya.

Korban hubungan tanpa status: Lose – NIKI

Dalam  memulai suatu hubungan, seseorang biasanya akan mempertimbangkan banyak hal, salah satunya komitmen. Pasalnya, memberi komitmen dalam hubungan bukanlah hal yang mudah. Sebagian orang merasa sulit berkomitmen karena pengalaman hubungan sebelumnya yang buruk; ada yang merasa tidak dapat membagi waktu serta energi untuk pekerjaan dan percintaan; ada pula yang merasa terhambat karena perbedaan adat dan budaya.

Akan tetapi, ternyata ada pula yang beranggapan bahwa ketidakmampuan untuk memberikan komitmen bukanlah penghalang memiliki pasangan. Hal ini membuat beberapa orang memilih untuk berada dalam hubungan tanpa status. Yang terpenting adalah keduanya hadir untuk satu sama lain sehingga tidak perlu merasa kesepian setiap saat. Seiring dengan berjalannya waktu, kondisi demikian kerap menciptakan kebingungan dalam suatu hubungan. NIKI merepresentasikan perasaan korban hubungan tanpa status melalui lagu barunya, Lose

Lose merupakan pengakuan seseorang yang dengan sadar berada dalam suatu hubungan tanpa status. Keduanya tahu bahwa mereka menyayangi satu sama lain. Namun, mereka tidak dapat memberikan hatinya secara penuh kepada satu sama lain sehingga akhirnya memilih mengakhiri hubungan yang bahkan belum pernah dimulai.

“I will never know if you love me. Or my company, but I don’t mind.

‘Cause I ain’t tryna be the one, been through this a thousand times.

I don’t need to take your heart. You keep yours, I’ll keep mine.”

Patah hati memang selalu menjadi PR dalam sebuah hubungan, Ultimafriends. Akan tetapi, jangan takut untuk menjalani hubungan hanya karena khawatir akan mengalami patah hati. Banyak orang yang juga mengalami hal serupa dan berhasil melaluinya. Cukup buka Youtube atau Spotify kamu dan iringi tangisanmu dengan lagu-lagu di atas. Semoga setelahnya, kamu lega dan siap menghadapi hari baru!

Feature Image: Melancholy, Edvard Munch (1891)
Editor: Theresia Melinda Indrasari

107.7 FM UMN Radio

Current track
TITLE
ARTIST