EXCLUSIVE INTERVIEW: VANCOUVER SLEEP CLINIC BANGUN KEDEWASAAN EMOSI MELALUI MUSIK

Written by on September 6, 2018

Entah dari buku mana yang pernah penulis baca, terngiang-ngiang satu kalimat yang sedikit banyak menggambarkan proses kreatif di balik karya yang dihasilkan oleh para pekerja seni, tak terkecuali Vancouver Sleep Clinic.

“Discomfort is where I am most comfortable.”

Penyanyi asal Brisbane dengan nama asli Tim Bettinson ini mengaku menyetujui kalimat tersebut saat sesi exclusive interview di acara Hodpodge Superfest 2018. Hampir semua musik yang ia produksi lahir dari pemaknaan akan apa yang sedang ia alami secara pribadi. Seperti lagu yang mengantarkan Tim menuju album debutnya, Collapse, yang rampung karena usahanya untuk melarikan diri dari masa-masa gelap yang ia alami ketika berusia tujuh belas tahun.

Everything that I write is what I’m feeling at the time,” papar penyanyi dan penulis lagu muda yang memulai kariernya dengan sebuah komputer dan keyboard di kamarnya. Ia pun menambahkan, “I make bad songs when I don’t feel anything at all.”

Tim Bettinson saat diwawancarai di Hodgepodge Superfest 2018 (01/09)

Kebiasaan menuangkan perasaan ke dalam sebuah lagu tetap dihidupi oleh Tim hingga extended player terakhir, EP Therapy Phase 001,  rilis secara independen. Sesuai dengan namanya, dalam proses pengerjaan EP ini Tim merasakan proses terapi penyembuhan bagi dirinya sendiri. Ditambah lagi, mengerjakan EP ini berbuah pemahaman dan even better, penerimaan akan apa yang sedang ia alami.

Tercermin dari salah satu lagu dalam EP tersebut berjudul Ayahuasca, Tim seolah-olah ingin menggeser pandangan stereotypical tentang standar penulisan lagu, dan lebih memainkan mood lagu.

Dengan durasi yang lebih panjang yaitu delapan menit tiga puluh detik, Tim menekankan fokus pada bagian tenor dalam lagu tersebut, dilengkapi dengan kekayaan instrumen yang terdengar halus.

And I don’t know what I’m chasing,
Maybe I’ll never know,
When everything else
around me is fading,
I don’t know where to go

Dengan beat menenangkan dari petikan gitar dan suara synth yang menggaung, Ayahuasca dan nyaris semua lagu-lagu yang Tim ciptakan menjadi teman yang selalu berhasil mengantar pendengarnya menuju alam mimpi. Tidak heran penyanyi yang sering mengenakan topi saat bepergian ini memilih nama panggung Vancouver Sleep Clinic since his ambient music definitely helps put ourselves to sleep.

Kata Vancouver sendiri bukan dipilih karena ia berasal dari sana, melainkan karena Tim sangat menyukai salah satu kota di Kanada tersebut. “I don’t come from Vancouver, but I think it’s a really cool place,” ungkapnya di sela-sela performance-nya di panggung Allianz Ecopark Ancol, 1 September lalu.

Dalam sesi tanya jawab yang sama, Tim bercerita bahwa jika ia diberi kesempatan untuk berkarya dalam genre musik yang lain, ia ingin mencoba memproduksi dan menyanyikan lagu-lagu rap. “I wake up every morning wishing I could rap, but I have this Australian accent that doesn’t sound good with rap,” ungkapnya sambil tertawa.

Setelah mimpinya untuk memanjangkan rambut ikalnya dan bermain musik sejak ia bersekolah di salah satu sekolah swasta terwujud, Tim tidak berhenti bermimpi dan terus menunjukkan keseriusannya dalam bermusik dengan merencanakan materi-materi baru, serta merencanakan show ke tempat-tempat yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.

 

 

*Artikel ini dibuat berdasarkan interview dalam rangkaian acara Hodgepodge Superfest 2018 (01/09) di Allianz Ecopark Ancol, Jakarta.
Sumber pendukung: Atwood Magazine, Pigeons and Planes
Editor: Melissa Octavianti

 


107.7 FM UMN Radio

Current track
TITLE
ARTIST