DREAMGIRLS JUGA ANGKAT ISU DISKRIMINASI DAN KRISIS KEPERCAYAAN DIRI

Written by on May 3, 2018

Listen, I am alone at a crossroad,

I’m not at home in my own home,

and I tried and tried to say what’s on my mind,

you should have known.

Kalau Ultimafriends membaca sepenggalan lirik di atas sambil bernyanyi, artinya, pasti tahu Beyonce Knowless dong ya? Tembang terkenal ini ia nyanyikan saat berperan menjadi Deena Jones dalam film Dreamgirls.

Walaupun sudah sejak 2006 dirilis, Jakarta Performing Art Community (JPAC) menggarap ulang produksi musikal broadway karya Tom Eyen. Sempat dibawakan oleh Broadway, kali ini JPAC akan menghadirkan kembali pentas satu ini dengan warna berbeda tanpa mengubah alur ceritanya sama sekali.

Pentas yang akan digelar di Graha Bhakti Budaya selama 3 hari ini merupakan garapan sutradara asal Amerika, Hans De Waal dan melibatkan para pemain teater hasil seleksi audisi. Meskipun tiap partisipan di pementasan ini merupakan hari dari kerelaan hati masing-masing, bukan berarti JPAC memilih sembarang orang untuk memerankan kisah ini, lho! “Audisi dilakukan secara ketat, untuk akhirnya bisa mendapatkan yang terbaik,” kata Hans De Waal, selaku sutradara dari produksi ini.

Hans juga mengaku kalau ia berani mengambil risiko dan rela untuk mengerahkan tenaga di tiap minggunya demi melatih talenta-talenta berbakat Indonesia. Menurut Hans sendiri, ada kegembiraan tersendiri melihat semangat para pemain dalam menjalani latihan yang juga dilakukan secara sukarela.

Deena Jones (Desmonda Cathabel) (kanan) sedang menyanyikan lagu dalam act 2, “When I First Saw You” bersama Curtis Taylor (Albertus Raynaldi) (kiri).

Dreamgirls mengisahkan 3 orang wanita kulit hitam yang sama-sama memperjuangkan mimpi untuk menjadi penyanyi dengan setting tahun 1980-an. Pada masa itu, masuk ke dalam industri entertainment tidak semudah seperti keadaan saat ini. Terlebih, persoalan ras masih menjadi momok bagi warga saat itu. Maka kisah Dreamgirls bukan sekadar perjalanan mengejar mimpi, tapi juga mengangkat isu-isu seperti diskriminasi, emansipasi, serta krisis kepercayaan diri.

“Ini merupakan kisah yang menarik. Effie White, Deena Jones, dan Lorrell Robinson adalah sekelompok wanita kulit hitam yang merupakan formasi dari grup vokal, The Dreamettes. Mereka berani mengambil risiko untuk tampil menyanyi tanpa peduli dengan stereotype yang ada, bahwa seorang penyanyi haruslah punya modal fisik yang kurus, wajah cantik, dan kulit yang putih,” tutur Hans selaku sutradara dalam press conference  pada Rabu (25/04).

Hans De Waal, sutradara pertunjukan musikal Dreamgirls.

Memang betul, definisi cantik masih terpaku pada stereotype seperti yang dikatakan Hans. Namun, di sinilah poin kisahnya. Dreamgirls membawa banyak isu dan membuat penikmatnya belajar dari situ. Harapannya, setelah menonton Dreamgirls, kaum wanita ataupun lelaki dapat mengambil makna bahwa mewujudkan mimpi kita, terutama sebagai pekerja hiburan, dapat kita gapai dengan memenuhi satu kriteria penting, yaitu menjadi diri sendiri.

Untuk itu, pementasan ini ada untuk memupuk keyakinan orang-orang yang merendahkan dirinya sendiri. Bagi Tunggal, yang merupakan aktivis perempuan dan feminis, setting 19670 -1980 an dalam film ini juga menunjukan bagaimana perjuangan keras para wanita pada saat itu untuk memperjuangkan haknya. “Coba bayangkan di tahun segitu, seberapa keras perjuangan mereka,”

Jadi, kalau kamu masih punya masalah dengan kepercayaan diri, yuk saksikan aksi Deena ones dan kawan-kawannya menalukan dunia musik dalam Dreamgirls di Graha Bhakti Budaya tanggal 256-27 Mei 2018!


[There are no radio stations in the database]