DILEMA MENONTON KONSER DI ERA DIGITAL: HANDS UP OR GADGET UP?

Written by on May 11, 2018

If you told me I could only do one thing, I would choose live concerts. – Mandy Patinkin

 

Menonton konser menyuguhkan experience yang kemungkinan besar tidak bisa kamu dapatkan dengan sekedar mendengar lagunya melalui aplikasi apa pun. Momen-momen ketika penyanyi favoritmu naik ke panggung, lengkap dengan lighting warna-warni, seraya menyanyikan lagu yang kamu sudah hafal di luar kepala, hingga melihat penyanyi favorit kamu menuangkan ekspresinya dalam bermusik baik itu melalui facial expression atau stage act yang ciamik.

Ekspresi Mac Ayres saat menyanyikan lagu I’ve Always Been pada A:M Festival (Vania Evan)

Perasaan saat kamu seolah-olah terhubung dengan seisi ruangan meski berisi orang-orang yang belum pernah kamu temui sebelumnya hanya karena menyanyikan lagu yang sama. That feeling when you feel like there’s no boundaries between you and your favorite idol, saat kamu dan penyanyi favoritmu satu suara meneriakan lirik demi lirik, merayakan kecintaan dalam bermusik, dan menikmati musik. It’s priceless.

Karena menonton konser merupakan hal yang tidak terjadi setiap hari, wajar rasanya jika hampir setiap orang ingin mengabadikannya sebagai kenang-kenangan. Masalahnya, apakah keinginanmu mengabadikan momen spesial itu justru membuat momen itu tidak lagi spesial karena kamu sibuk dengan alat rekammu?

Salah satu penonton A:M Festival sedang merekam performance di panggung melalui akun Instagramnya. (Sarah Sekar)

Alvioleta Putri, salah satu penikmat musik yang datang ke A:M Festival, sebuah festival musik yang diinisiasi oleh Student Board Prasetiya Mulya, mengaku mendokumentasikan semua performers yang ia tonton melalui video. Perempuan berusia enam belas tahun ini mengaku melakukannya karena merasa pengalaman menonton festival musik merupakan pengalaman yang mahal dan ia ingin memiliki kenang-kenangan yang dapat ia bawa pulang dari festival musik tersebut.

You might wanna read: 4 Hal Menarik dari Penampilan The Groove di A:M Festival

Berbeda dengan Alvioleta, dari segi pemusik, Elda Suryani selaku vokalis Stars and Rabbit sempat merasa terganggu melihat semua penonton yang datang mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. “Put your phone down. I don’t wanna see your phone. Let’s sing along instead,” ujarnya di sela-sela penampilan duo folk asal Yogyakarta ini pada festival The Sounds Project 2018.

Senada dengan ketidaksukaan Elda terhadap penonton yang hobi merekam performance-nya, beberapa promotor juga melakukan tindakan-tindakan preventif mengenai hal ini. Mungkin sudah tidak asing lagi jika kamu melihat larangan untuk membawa kamera profesional ataupun tongkat selfie. Lebih parah lagi, promotor konser Kpop beberapa kali harus mendisiplinkan penontonnya yang mencoba merekam penampilan musik secara live di Instagram. Jika tertangkap basah, penonton tersebut dipaksa keluar dari venue konser. Meski terdengar ekstrem, tetapi hal ini dilakukan untuk mencegah perilaku pembajakan, serta untuk memastikan agar hanya penonton yang telah membeli tiket yang dapat menyaksikan performance idolanya. Cukup adil, bukan?

Walaupun dengan mendokumentasikan penampilan pemusik dan mengunggahnya di media sosial sedikit banyak bisa memberikan exposure untuk performer tersebut, nyatanya tidak semua pemusik menginginkan sepanjang penampilan mereka, penonton sibuk merekam tanpa bisa menikmati lagu bersama. Beberapa ingin merasakan energi dari para penonton yang mengapresiasi musik mereka tanpa pretensi, entah itu sekedar mengetuk-ngetukkan kaki mengikuti beat lagu, mengangguk-anggukan kepala, sampai menanggalkan rasa malu and dancing their heart out.

Kemudian timbul pertanyaan, bukankah mendokumentasikan dan mengunggah penampilan performers juga merupakan bentuk apresiasi?

We believe that we can’t really generalize the proper way to appreciate things, dan artikel ini tidak dibuat untuk men-judge para penikmat musik yang hobi merekam konser maupun festival musik yang ia datangi.

Sharing is a form of sincerity, dan membagikan apa yang kamu suka melalui media sosial bukanlah hal yang salah. Namun, salah satu penikmat musik yang cukup sering mendatangi festival musik, Roberdy Giobriandi mengatakan bahwa hal yang wajar tersebut di lain sisi dapat mengganggu penonton lainnya yang juga ingin menikmati musik secara utuh jika dilakukan dengan berlebihan.

“Merekam the whole experience walau dateng ke konser buat nonton (menurut saya) agak annoying. Merekam dengan tangan setinggi mungkin menghalangi penonton lainnya. Itu sih yang masalah. Kalau ambil foto sesekali, it’s okay,” ujarnya.

Kesimpulannya, bagaimana pun cara kamu mengapresiasi musik dalam suatu festival konser bisa jadi berbeda satu dengan yang lainnya. Bisa saja kamu menikmati memutar ulang video yang diambil dari konser atau festival musik yang kamu datangi, atau sebaliknya, you just enjoy being alive and present at that moment, and immerse yourself in the rhythm of the music. It’s your choice, and you do you.

But as a friendly reminder, jangan sampai caramu mengapresiasi musik, mengganggu penikmat musik lainnya ya Ultimafriends!

Editor: Melissa Octavianti


107.7 UMN Radio [CT]

Current track
TITLE
ARTIST