Deretan Film Pendek Indonesia sebagai Alternatif Tontonan selama Self-Quarantine

Written by on May 3, 2020

Membuat dalgona coffee (yang tim reporter sebut sebagai “kopi TikTok”) untuk yang ke-10 kalinya, sudah. Menonton film dan drama yang ada di Netflix, sudah. Bahkan melakukan hal yang benar-benar dilakukan kalau sudah nggak ada kerjaan sama sekali, yaitu beresin kamar, juga sudah.

Memasuki bulan kedua karantina, beberapa dari Ultimafriends mungkin sudah terbiasa mengalami skenario-skenario di atas. Rasa jenuh mulai menjalar ke mana-mana dan ide-ide menghabiskan waktu pun menjadi terasa basi. Di saat-saat seperti ini, kamu nampaknya butuh alternatif hiburan lain untuk mengisi waktu selama self-quarantine. Apalagi libur semester juga segera menjemput sesudah kamu menyelesaikan UAS yang akan berlangsung beberapa minggu lagi.

Ultimfriends, sejak karantina berlangsung, banyak sekali sineas yang mengunggah film-film pendeknya secara gratis melalui YouTube. Padahal, biasanya film-film tersebut hanya dapat diakses melalui festival film atau media alternatif pemutaran film yang memungut biaya. Hal tersebut merupakan bentuk upaya para sineas Indonesia untuk membantu meringankan beban masyarakat selama karantina berlangsung.

Kehadiran film-film pendek di YouTube ini menambah keragaman hiburan serta menjadi pelipur lara bagi Ultimafriends ketika sudah mulai jenuh menonton film atau drama yang sedang populer saat ini. Kali ini tim reporter telah menghadirkan deretan film pendek Indonesia yang diunggah selama masa karantina dan bisa menjadi alternatif tontonan bagi kamu. 

1. Lemantun (2014)

Sumber: YouTube Wregas Bhanuteja

Film berdurasi 21 menit ini menceritakan tentang sebuah pertemuan keluarga. Dalam pertemuan tersebut, sang ibu hendak memberikan warisan kepada lima anaknya. Namun, warisan yang hendak diberikan ternyata bukanlah warisan berbentuk rumah, tanah, atau uang, melainkan lemari usang.

Lemantun terasa sangat personal, karena cerita tersebut terinspirasi dari kisah asli keluarga Wregas. Pada malam Lebaran 2011, eyang putri Wregas membagikan warisan lemari kepada delapan orang anaknya. Lemari tersebut berjumlah delapan buah, yang dibeli satu per satu ketika setiap anak lahir.

Film ini merupakan tugas akhir Wregas Bhanuteja ketika kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada 2014 dan baru saja dirilis di Youtube pada 10 April 2020. Wregas mengunggah film pendeknya secara luas dengan harapan agar masyarakat dapat menikmati karyanya di masa karantina.

Film bertema keluarga ini dipuji oleh berbagai pihak karena dirasa dekat dan dapat diterima oleh masyarakat luas. Wregas memang dikenal sebagai sutradara muda yang pandai meracik cerita. Ia bahkan menjadi orang Indonesia pertama yang mendapatkan penghargaan di acara film bergengsi di Prancis, Cannes Film Festival, pada tahun 2017 untuk film pendeknya yang berjudul Prenjak. Per 3 Mei 2020, Lemantun telah ditonton lebih dari 210.000 kali di YouTube.

2. Something Old, New, Borrowed, and Blue (2019)

Sumber: YouTube cinesurya

Sutradara dan penulis sejumlah film, seperti What They Talk About When They Talk About Love, Fiksi, dan Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, Mouly Surya, juga ikut merilis film pendeknya di YouTube. Tidak seperti nama judulnya yang cenderung panjang, film Something Old, New, Borrowed, and Blue berdurasi singkat, hanya empat menit.

Film ini menceritakan tentang seorang perempuan yang sedang menanti suaminya menjalankan tradisi pernikahan Jawa untuk menikahinya. Perempuan tersebut menunggu dalam ruangan berbeda bersama sang ibu. Selama penantian, keduanya saling bertukar pikiran mengenai pernikahan sebelum sang anak resmi menjadi istri.

Pasangan ibu dan anak dalam film ini diperankan oleh aktris profesional Christine Hakim dan Ayushita. Melalui karyanya, Mouly ingin memunculkan diskusi mengenai peranan sosial serta budaya perempuan dan laki-laki dalam tatanan masyarakat.

Film ini dibiayai oleh Singapore International Film Festival (SGIFF) dan pernah dirilis secara terbatas pada tahun 2019 sebagai film pembuka SGIFF. Di laman YouTube, film ini rilis pada 20 Maret lalu dan telah ditonton lebih dari 9.500 kali hingga 3 Mei 2020.

3. Unbaedah (2019)

Sumber: YouTube KPK RI

Dengan latar waktu bulan Ramadhan, Unbaedah bercerita tentang seorang ibu, Baedah, yang terbiasa ndobel pada acara pengajian yang diadakan di sekitar rumahnya. Ndobel merujuk pada sebutan untuk menggambarkan perilaku seseorang yang gemar mengambil jatah nasi berkat milik tetangganya. Suatu kali, Baedah melakukan hal tersebut pada acara tujuh harian kematian tetangganya dan mendapat teror yang berdampak bagi dirinya dan keluarganya.

Dalam durasi 15 menit, karya yang disutradarai oleh Iqbal Ariefurrahman ini menyampaikan cerita mengenai tindakan korupsi di sekitar masyarkat yang jarang disadari. Cerita ini menggunakan pendekatan grass-root (pendekatan yang dimulai dari masyarakat di tingkat bawah) serta dibalut dengan sentuhan horor dan komedi. Film ini menjadi film yang sederhana sekaligus edukatif tanpa menggurui.

Unbaedah mendapat penghargaan Film Favorit pada ajang Anti Corruption Film Festival (ACFFest) yang diselenggarakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 2019. Sebelum mendapatkan penghargaan tersebut, Unbaedah telah melewati tahap penyaringan proposal bersama 663 proposal lainnya, hingga menjadi 10 proposal. Film ini kemudian berhasil mendapatkan dana produksi sebesar Rp20 juta beserta pelatihan Movie Camp pada bulan September 2019.

Film ini sebenarnya telah diunggah di laman YouTube KPK RI tahun lalu, namun diunggah kembali oleh akun YouTube Paguyuban Filmmaker Jogja. Hingga 3 Mei 2020, Unbaedah telah ditonton lebih dari 5000 kali di laman YouTube KPK RI.

4. Natalan (2015)

Sumber: YouTube Kebon Studio Film

Datang dari rumah produksi Kebon Studio di Yogyakarta, Natalan bercerita tentang pulangnya seorang laki-laki yang berjanji untuk merayakan misa malam Natal dengan ibunya di Yogyakarta. Selama perjalanan bersama istrinya, kegelisahan dan kerinduan terhadap sang ibu tidak henti-hentinya datang dalam pikiran laki-laki tersebut.

Meski dikemas dalam gaya penceritaan yang lambat dan dialog yang minim, film ini tidak membosankan. Justru, hal tersebut menjadi kekuatan yang nantinya akan ‘meledak’ di akhir cerita. Dengan keheningan yang ada, penonton seakan-akan diajak untuk berkontemplasi mengenai hubungan mereka dengan orang tua masing-masing.

Film Natalan menyatakan kejujuran dari sebuah kegelisahan seorang anak kepada orang tuanya, untuk menyeimbangkan kewajibannya sebagai anak serta orang dewasa yang telah memiliki tanggung jawab sendiri. Hal ini membuat banyak penonton merasa dekat dan turut berempati dengan cerita yang ditampilkan. Film yang mendapat nominasi dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 2015 ini baru saja dirilis di Youtube pada 4 April 2020 dan telah ditonton lebih dari 61.000 kali hingga 3 Mei 2020.

Karena temanya yang sama-sama mengangkat cerita keluarga dengan latar Yogyakarta, Natalan menjadi film yang cocok ditonton bersamaan dengan Lemantun. Keduanya pun sama-sama bisa membuat penonton menangis di akhir cerita. So, buat Ultimafriends yang lagi pengin ngeluarin air mata, cocok banget nonton kedua film ini.

Kehadiran film-film pendek yang diunggah pada masa karantina disambut ramai oleh netizen. Hal ini juga secara tidak langsung berpotensi meningkatkan minat masyarakat terhadap film-film pendek karya anak bangsa. Semoga usai pandemi Covid-19, keinginan masyarakat untuk datang ke festival film atau media pemutaran film alternatif juga turut meningkat, ya Ultimafriends!

Cine Space, salah satu media pemutaran film alternatif di SDC Serpong (Foto: Twitter @Matahatidoks)

Selain keempat film pendek di atas, masih ada beberapa film pendek Indonesia lainnya yang telah diunggah sebelum karantina dan menarik untuk ditonton versi tim reporter. So, here’s a couple of honorable mentions for Ultimafriends:

1.Carnivale (2017)

2. Goyang Kubur Mandi Darah (I Dance On Your Grave, 2018)

3. KTP (2016)

Sumber: YouTube Lula Studio

Nah, Ultimafriends, itu dia deretan film-film pendek yang bisa menjadi alternatif tontonan kamu selama masa self-quarantine. Kira-kira dari sekian banyak film yang telah tim reporter sebutkan di atas, film mana yang mau kamu tonton lebih dahulu?

Editor: Theresia Melinda Indrasari
Tagged as

107.7 UMN Radio [CT]

Current track
TITLE
ARTIST