BERKENALAN DENGAN DEWAN ETIK MAHASISWA DI UMN

Written by on July 13, 2018

Ultimafriends, tahukah kamu bahwa tidak hanya pada lembaga negara pengawal konstitusi seperti Mahkamah Konstitusi, institusi pendidikan seperti universitas-universitas juga memiliki suatu perangkat yang menindaklanjuti pelanggaran kode etik, yang disebut dengan Dewan Etik.

Jika pada lembaga hukum Dewan Etik bertugas untuk menjaga keluhuran martabat serta perilaku para hakim agar sesuai dengan Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim Konstitusi, Dewan Etik yang berada di lingkup universitas mempunyai tugas dan wewenang yang tidak jauh berbeda.

Di UMN sendiri terdapat Dewan Etik Mahasiswa dan Dewan Etik Dosen dan Staf, yang keduanya berfungsi sebagai tempat pelaporan pelanggaran kode etik serta sebagai pihak yang memberi pertimbangan konsekuensi hukuman yang harus dijalani si pelaku pelanggaran.

Mengenai keberadaannya yang tidak terlalu akrab di telinga kita, ketua Dewan Etik Mahasiswa UMN Gideon Kamang menerangkan bahwa dari pihak kampus memang tidak melakukan sosialisasi tentang keberadaan Dewan Etik ini. Sosok dosen di Fakultas Seni dan Desain UMN yang akrab disapa Pak Gide ini menambahkan, “mahasiswa hanya harus tahu bahwa kampus ini punya peraturan, dan kami ada untuk membantu terlaksananya peraturan dan sanksi atas pelanggarannya.”

Selama 3 tahun menjabat menjadi Ketua Dewan Etik Mahasiswa UMN, beliau sudah menangani sebanyak 171 kasus, mulai dari yang sepele sampai yang kompleks. Di antaranya, ada kasus pencurian helm, kasus penggelapan tiket pesawat, kasus hacking KRS Online, kasus mahasiswa belum bayar uang kos, sampai kasus pelecehan seksual.

Konsekuensi yang diberikan pun bermacam-macam, tergantung dari seberapa besar kasus yang dialami oleh mahasiswa. Mulai dari Surat Peringatan, fail di mata kuliah tertentu, harus mengulang, sampai drop out.

Laporan yang diterima tidak begitu saja langsung diproses konsekuensinya. Ada beberapa tahap yang disebut sebagai proses hearing, atau mendengarkan. Proses ini sesederhana mendengarkan pelapor  dan pelaku mengklarifikasi lebih lanjut kasus tersebut. Entah penjelasan lebih lanjut dari sang pelaku, ataupun pengakuan yang signifikan. Pada akhirnya, pihak pelanggar diperbolehkan menjelaskan kembali apa alasan, maksud dan tujuannya melanggar.

Jika Ultimariends punya kasus atau masalah yang memberatkan dan merasa hal tersebut harus diketahui dan dilaporkan ke Dewan Etik Mahasiswa, sesuai ketentuan di buku panduan kemahasiswaan, Ultimafriends bisa melaporkannya ke Dewan Etik. Mekanismenya berupa pengambilan form di Student Service lantai 2 gedung C UMN, lalu laporan Ultimafriends akan diproses paling lama empat minggu. Lama atau tidaknya waktu pemrosesan semuanya bergantung pada tahap hearing, dalam beberapa kasus pihak terlapor tidak mau dipanggil.

“Sebenarnya, konsekuensi paling utamanya adalah saya puji sang pelaku terlebih dahulu. Lalu, tanya, deh, kenapa sampai melakukan hal sebodoh menyolong helm?” papar Gideon Kamang selaku ketua Dewan Etik Mahasiswa.

Selanjutnya, setelah mendengar penjelasan bahkan memuji sang pelaku, ia baru mendiskusikan dan memberikan konsekuensi yang sepatutnya. Jika tindakan pelanggaran yang dilakukan sampai ke ranah pidana, maka ia akan memprosesnya lebih lanjut ke kepolisian dan hukum.

Di UMN, Dewan Etik Mahasiswa terdiri atas lima orang perwakilan dari tiap fakultas. Tidak hanya mahasiswa saja, Dewan Etik juga menangani perilaku pelanggaran oleh dosen dan staf. Dalam hal ini, mahasiswa juga dapat melaporkan  pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh mereka. Namun, mekanismenya berbeda dengan Dewan Etik Mahasiswa, badannya pun juga berbeda, terpisah dengan Dewan Etik Mahasiswa.

Ilustrasi: Liputan6.com
Editor: Vania Evan


107.7 UMN Radio [CT]

Current track
TITLE
ARTIST