Beda Zaman Beda Aliran Musik, Apa Kata Vira Talisa dan Mario Kahitna?

Written by on March 4, 2018

Waktu berlalu, zaman berganti, tren dunia pun berubah.

Hal yang sama nampaknya juga terjadi di dunia musik. Semakin lama, mulai muncul subgenre musik baru yang kian digemari di era ini. Sebut saja trap (hiphop elektronik), dubstep, nu-disco, dan electro house yang muncul di tahun 2000-an dan semakin berkembang pesat hingga saat ini.

Kemudian timbul pertanyaan, apakah pergantian zaman dan kemunculan subgenre baru ini berdampak kepada cara musisi mengemas lagu-lagu mereka dan kebiasaan masyarakat dalam menikmati musik?

Vira Talisa, musisi Indonesia yang mulai dikenal dari Soundcloud sejak tahun 2016 ini mengungkapkan dari sudut pandang musisi, bahwa musisi pada era yang lampau memiliki kekuatan yang lebih ekspresif dibandingkan musisi masa kini.

“Kalau zaman dulu sih menurutku orangnya lebih ekspresif. Jadi musiknya lebih macem-macem gitu. Kalau sekarang, musik yang ada di TV atau radio rasanya sama semua, jadi kurang beragam. Tapi masih bagus juga, kok,” ucap Vira saat ditemui seusai penampilannya di The Sounds Project vol. 3.

Selain itu, Vira juga mengatakan bahwa  penyebab munculnya perbedaan karakteristik musik zaman dahulu dan sekarang adalah karena cara hidup orang-orang di era yang lalu dengan sekarang juga berbeda. Menurutnya, perbedaan karakteristik yang signifikan dari musik zaman dahulu dan sekarang adalah lirik-lirik lagunya.

Berbeda dari Vira yang bertumbuh di tahun 2000-an, tim reporter sempat mewawancarai salah satu personel Kahitna, yaitu Mario Ginanjar.

Menurut Mario yang sudah menggeluti dunia musik bersama Kahitna sejak tahun 80-an, salah satu perbedaan dari musik era yang lama dengan sekarang terletak pada penikmat musik itu sendiri.

“Dulu orang mendengarkan musik tuh satu album. Jadi dengerin musik dari awal sampai akhir. Kalau sekarang orang lebih suka lagunya, jadi dengerinnya per lagu,” ujar Mario.

Dalam kesempatan tersebut, tim reporter bertanya kepada Mario mengenai pendapatnya tentang format konten musik yang mulai berubah, dimana penikmat musik mulai mengenal adanya 4 chord yang dimainkan berulang-ulang.

Sambil tertawa singkat, Mario menjawab, “sebenernya gak ada rumusan musik yang eksakta dan bisa dicari rumusnya. Musik itu tentang kejujuran. Ada orang yang mixing-nya di luar negeri, buat video clip di luar negeri, tapi rasanya ingin membuktikan sesuatu. Musik bukan tentang itu! Musik itu memainkan lagu dengan hati.”

Di luar percakapan tim reporter dengan Mario, di waktu dan tempat yang berbeda, Vira Talisa juga setuju dengan pendapat Mario dan mengatakan bahwa musik itu membutuhkan kejujuran. Sebagai musisi yang belum “se-tua” Kahitna, Vira ingin dapat membuat karya musik dengan genre apapun namun tetap harus dilandasi dengan kejujuran.

Menarik benang merah dari pernyataan mereka berdua, dapat tim reporter simpulkan bahwa musik sendiri adalah tentang kejujuran. Mengutip kata Johnny Depp, music touches us emotionally when words alone can’t.” Mau apapun genre-nya, musik menjadi perwakilan perasaan emosional musisi pembuatnya yang kadang tidak terkatakan, dan diharap tidak hanya bagi sang musisi, namun dapat juga menyentuh sisi emosional penikmat musik.

Foto: Michael Josua
Editor: Vania Evan


[There are no radio stations in the database]