BASA-BASI KAMU PALING BASI KALO NGOMONGIN FISIK

Written by on April 3, 2019

“Hai Natha! Udah lama banget kita nggak ketemu. Lo gendutan ya?”

“Hehe… Iya kali ya?”

Ultimafriends, siapa sih yang nggak bete kalau ketemu temen lama malah dilempar pertanyaan tentang fisik? Rasa excited yang seharusnya kamu rasakan malah berubah jadi pengen cepet-cepet pulang. Kalau bisa sih mau jawab, “Iya nih gendutan. Soalnya makin bahagia nggak ketemu orang kayak lo.”

Ups.

Indonesia itu memang unik, apalagi orang-orangnya yang terkenal dengan keramahannya. Nggak heran kalau orang Indonesia jago banget dalam berbasa-basi. Budaya basa-basi yang udah turun-temurun ini bisa dipakai sebagai senjata ampuh kalau kita baru kenalan sama orang, teman lama, atau pun untuk mengatasi awkward moment. Menarik ketika tujuan awalnya adalah untuk mencairkan suasana, tapi yang sering terjadi malah memperpanas suasana. Ilustrasi di atas adalah contoh yang biasa terjadi, saking biasanya sampai-sampai hal itu dianggap pantas diucapkan.

Nggak tahu sejak kapan ya, Ultimafriends, kalimat-kalimat yang mengomentari fisik orang lain seolah menggantikan sapaan, “Halo, apa kabar?”.

Menurut Tara, seorang psikolog di acara Dove ‘Ragam Kecantikan Wanita Indonesia’, alasan orang suka mengomentari fisik sebagai bahan basa-basi itu karena otak kita nggak bisa memproses suatu hal yang ribet. Jadi begitu ketemu orang yang pertama kali dilihat adalah fisiknya, itulah yang langsung diucapkan. Tara juga menyarankan bagi para korban basa-basi fisik untuk nggak langsung baper.

Ucapan yang dituturkan sering kali membuat orang lain tertekan

Apa yang diucapkan Tara seolah menjadi tameng bagi mereka yang suka melakukan basa-basi fisik. Seolah si korban diminta sabar dan maklum, sedangkan si pelaku boleh melakukannya karena itu hal yang dianggap sebagai reaksi natural. Padahal, semua orang bisa berpikir sebelum bicara agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Di Indonesia yang memiliki beauty standard cantik itu langsing, kata ‘kurusan’ dianggap pujian. Hal yang tidak disadari di balik sifat sok tahu itu, ada kemungkinan si lawan bicara sebenarnya sedang menderita penyakit yang membuatnya kehilangan berat badan dan dalam upaya untuk sembuh.

Membicarakan soal fisik sama sensitifnya dengan membicarakan agama, suku, status, usia, sama seperti pertanyaan kapan lulus, kapan kerja, kapan nikah, dan kapan kapan lainnya juga menyinggung ruang pribadi orang lain. Those are  none of our business, Ultimafriends. Kalau kamu merasa itu berlebihan, tandanya kamu masih menjadi bagian dari para pelaku dan perlu mengubah pola pikir. Berasal dari latar belakang yang berbeda, isi hati tiap orang juga berbeda. Kamu pun nggak tahu perasaan seseorang yang kamu temui. Mungkin saat itu sebenarnya dia lagi sedih, tapi saat bertemu kamu, dia berusaha terlihat seceria mungkin. Lalu, saat akhirnya kata-kata menyakitkan itu terucap untuk sekedar basa-basi, hal itu membuatnya makin sedih dan kamu baru aja menambah beban kesedihannya, Ultimafriends!

Sedemikian berdampaknya basa-basi menyakitkan itu, sampai berdampak pada hidup si korban, lho. Beberapa orang jadi lebih sensitif karena merasa mendapat banyak tuntutan sosial. Merasa udah kebanyakan menerima tuntutan tersebut, orang-orang itu jadi merasa lelah sehingga mudah tersulut amarah. Lebih buruknya lagi, kalau punya rasa percaya diri yang rendah, mereka akan kehilangan self-love. Daripada basa-basi tentang fisik, berikut referensi basa-basi yang lebih empowering:

Memuji bagian yang menarik dari orang tersebut

Ultimafriends, mengomentari fisik seseorang nggak melulu negatif lho dan bukan berarti harus pura-pura memujinya, asalkan kamu mau memperhatikannya sebelum langsung nyeplos dengan hal-hal yang terlihat dengan jelas seperti bentuk tubuh. Contohnya, kamu bisa memuji warna pakaian atau model pakaian yang cocok dikenakannya, tapi kalau masih mau komentar tentang fisiknya, kamu bisa bilang,“Rambut baru ya? Makin fresh, deh!”. Who knows you might turn somebody’s bad day into a good one?

Memuji pencapaian yang telah diraih orang tersebut

Kalau kamu masih nggak berani ngebahas fisik, coba puji pencapaian yang udah diraih sama lawan bicaramu. Misalnya, “Denger-denger kamu buka coffee shop ya? Keren banget! Bagi tips buka usaha sendiri, dong.” Selain memuji, kamu juga bisa sekaligus bertukar informasi dengannya. Pujianmu itu bisa jadi salah satu topik obrolan yang dibicarakan lho! Lumayan kan yang awalnya hanya basa-basi malah jadi pembahasan yang berfaedah dan memotivasi?

Menanyakan kabar

Mungkin terdengar biasa, tapi ini menunjukkan kepedulianmu terhadap orang lain. Nggak cuma menanyakan kabarnya, kamu juga bisa menanyakan kabar anggota keluarganya yang kamu kenal. Misalnya, “Nyokap lo apa kabar? Salam ya buat nyokap, udah lama nggak ketemu.” Orang tersebut akan merasa bahwa kamu peduli padanya dan orang-orang di sekitarnya. Kamu juga senang dong kalau mendapat perlakuan yang sama?

Membagikan energi positif kepada sesama akan lebih menyenangkan

Ultimafriends, setiap orang memang punya hak untuk berbicara, berpendapat, dan berbasa-basi. Hal yang perlu diingat, setiap orang juga punya hak untuk merasa aman dan nyaman. Nggak susah kok untuk membuat orang lain nyaman saat menghabiskan waktu sama kamu. Cukup dengan menghormati perasaannya dan nggak menjadikan hal-hal pribadi sebagai bahan basa-basi atau candaan karena segampang kita mengucapkan basa-basi itu, segampang itu juga kita menyakiti hati orang lain. Yuk kita mulai dari diri sendiri supaya bisa ninggalin ‘warisan’ berupa kebiasaan baik buat anak cucu di masa depan!

Foto: Berbagai sumber
Editor: Aurelia Gracia

107.7 UMN Radio [CT]

Current track
TITLE
ARTIST