MAPALA UMN MEMBUAT BIOPORI SEBAGAI AKSI PEDULI BUMI

Written by on April 25, 2018

Ultimafriends, kalau dengar kata mahasiswa pencinta alam (Mapala), apa sih yang terlintas di pikiran kamu? Pasti banyak yang mikir kalau aktivitas dari UKM Mapala hanya mendaki gunung, lewati lembah aja layakya Ninja Hatori, kan? Ternyata, apa yang Mapala lakukan jauh lebih dari itu loh!

Sejak Januari 2018, akun Instagram Mapala UMN telah menyebarkan informasi tentang biopori. Menurut salah satu anggota Mapala, Kevin, pendaftaran dibuka pada bulan Maret dan slotnya langsung penuh dalam 2 hari. “Mahasiswa pada antusias, atau nggak ya karena SKKM, kayaknya udah pada tau kalau bakal dapet pengabdian masyarakat,” katanya sambil tertawa.

Realitanya, memang sulit untuk tidak menjanjikan imbalan berupa SKKM demi kegiatan menjaga lingkungan. Kebanyakan mahasiswa tidak begitu menaruh perhatian terhadap situasi lingkungan sekitar. Belum lagi, kita sering berkelit dengan alasan-alasan bahwa menjaga bumi bisa dilakukan kapan-kapan.

Dalam penjelasan singkat Fitra Hasnu selaku penggiat pembuatan lubang biopori, daerah resapan air di bumi kita sudah semakin menipis. Hal ini dikarenakan kurangnya daerah resapan air. Sayangnya, hal ini kurang disadari oleh manusia yang tinggal di dalamnya. Kebanyakan dari populasi manusia  malah semakin mencemarinya demi kepentingan pribadi. Alhasil, segala bentuk pencemaran terjadi begitu saja, tanpa sepengetahuan kita. Pemanasan global merajalela, temperatur bertambah tinggi tiap harinya dan banjir terjadi di mana-mana.

Maka dari itu, Mapala berinisiatif melakukan aksi sederhana lewat membuat lubang-lubang resapan air di bawah tanah atau yang disebut biopori. Mengambil tema ‘Kami Peduli, Kami Beraksi’, kegiatan ini bertujuan agar mengingatkan bahwa kepedulian bukan hanya disuarakan, tapi juga harus dilakukan. Gabriel Marsha, ketua acara ini juga mengatakan bahwa ia juga ingin menunjukkan integritas Mapala yang menjunjung tinggi kelestarian alam. “Mapala bisa berkarya melalui tindakan sederhana, bukan hanya lewat pendakian dan hal-hal ekstrem,” tambah Marsha yang juga merupakan Badan Pengurus Harian (BPH) divisi lingkungan UKM Mapala.

Mapala UMN membuktikan aksi nyatanya dengan mengajak para mahasiswa UMN untuk membuat lubang biopori. Lubang biopori bukan seperti lubang pada umumnya, lubang ini dibuat dengan kedalaman sekitar 80 – 100 cm di bawah permukaan tanah. Tentunya, lubang tidak hanya dibiarkan hampa begitu saja. Lubang-lubang berdiameter sekitar 10 cm ini akan diisi oleh pipa paralon berisi sampah-sampah organik.

Uniknya, untuk menggali lubang, Mapala menggunakan bor khusus biopori. Bor yang dimaksud bukanlah bor mesin pada umumnya. Melainkan berupa alat seperti bekas setang sepeda dan terdapat capitan pada bagian bawahnya. Setelah masuk ke dalam tanah, capitan ini diputar-putar, diangkat, lalu dilakukan pembersihan tanah-tanah yang tersangkut. Langkah ini harus dilakukan sampai beberapa kali agar menghasilkan lubang yang sempurna. Di tahap inilah, para pembuat lubang biopori harus merasakan lelahnya memutar capitan dan mencabut tanah yang tersangkut.

Walaupun demikian, antusiasme mahasiswa tidak berkurang. Beberapa kelompok justru tertantang untuk membuat lubang biopori sebanyak-banyaknya dan tidak segan untuk mengambil tanah-tanah sisa menggunakan tangan. “Toh bisa cuci tangan, asal bersih. Supaya nggak cacingan,” celetuk Winda, salah satu partisipan pembuatan lubang biopori.

Proses penggalian lubang

Pipa paralon dimasukan ke dalam lubang di tanah

Usai melakukan penggalian, lubang tersebut akan diisi oleh pipa paralon berdiameter 30 cm. Pipa ini nantinya akan diberi lubang-lubang kecil di sisinya. Selain itu, pipa tak akan dibiarkan kosong.  Pipa-pipa yang sudah ‘ditanam’ dalam tanah akan diisi pula oleh sampah-sampah organik seperti daun-daun kering. Tentunya daun-daun kering ini bukan hanya sekadar pengisi ruang pipa yang kosong, karena seiring berjalannya waktu sampah organik tersebut akan melapuk di bawah tanah. Tujuannya adalah agar organisme di bawah tanah mau mendekat dan otomatis tanah akan menjadi gembur. Ketika tanah menjadi gembur, air hujan dapat meresap ke bawahnya.

Anggota Mapala dan partisipan pembuatan lubang biopori 

Memang, aksi yang satu ini terdengar sangat sederhana sekali, ya, Ultimafriends! Namun, aksi kecil-kecilan seperti ini bukan berarti tidak banyak membantu bumi, lho! Bersama  31 lubang biopori yang berhasil ditanam kemarin, paling tidak bumi memiliki tambahan daerah resapan air yang dapat dimaksimalkan juga dengan penanaman tumbuhan dan tabungan air tanah yang hampir punah, serta menghindari kita dari berbagai bencana alam, seperti banjir dan pemanasan global.

Mulai dari sekarang, coba yuk, pikirkan apa aja yang sudah Ultimafriends lakukan buat bumi kita tercinta?

Foto: Theniarti Ailin
Editor: Vania Evan

107.7 UMN Radio [CT]

Current track
TITLE
ARTIST