5 FILM INI TAMPILKAN SOSOK WANITA-WANITA PEJUANG

Written by on April 23, 2018

Bukan cuma sekedar cerita tentang women empowerment atau film yang  female driven cast, deretan film berikut sarat akan makna perjuangan seorang wanita dalam memperoleh keadilan bagi dirinya sendiri, maupun orang banyak, dan menolak dijadikan sex object. Jangan berharap juga film-film di bawah cuma merupakan sederet film dengan perspektif male gaze, dengan pemeran utama wanita seksi yang jago berantem. Karena, not everything women do count as a feminist act, dan feminisme juga bukan melulu soal wanita yang bisa melakukan apa yang dilakukan oleh pria, but it’s about women who can do whatever the hell they want to do~

  1. Mad Max: Fury Road (2015)

Berlatar suasana post-apocalyptic karena bencana nuklir, film ini menceritakan tentang perjuangan sosok pemberontak wanita, Imperator Furiosa yang diperankan oleh Charlize Theron, untuk membawa keadilan di kota Citadel dan membebaskan kelima istri Immortan Joe dari perbudakan. Dengan bantuan Max (Tom Hardy), Furiosa berhasil menggulingkan Joe dari kekuasaan dan akhirnya membebaskan warga kota dari gaya pemerintahan Joe yang diktator. Di film ini, Furiosa berhasil melepaskan figur wanita dari belenggu ketidakberdayaan dan cuma bisa sekedar menjadi seorang budak atau dipakai sebagai “alat” untuk menghasilkan keturunan.

 

  1. Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)

Disutradarai oleh sutradara wanita kebanggaan Indonesia, Mouly Surya, film ini berhasil menyampaikan kisah Marlina, sang janda yang harta dan harga dirinya dirampas oleh sekelompok perampok, dalam empat babak ritmik yang menegangkan. Jika dilihat secara garis besar, alur film ini serupa dengan film-film besutan sutradara ternama, Quentin Tarantino. Alih-alih pasrah dan ‘playing victim’, Marlina memutuskan untuk membalas dendam dengan membunuh para perampok yang telah menginjak-injak harga dirinya itu. Film yang bersandar pada kultur sosial masyarakat pedalaman yang masih patriarkis ini, berhasil menyita perhatian dunia festival perfilman internasional, seperti Vancouver International Film Festival, Sitges International Fantastic Film Festival, Busan International Film Festival, Cannes Film Festival, dan Festival International de Filmsde Femmes de Créteil.

Plus, film ini dikemas dengan sinematografi yang menggambarkan keindahan Sumba dengan sangat baik dan juga film scoring yang sangat mendukung atmosfir suasana dan emosi yang sedang dirasakan oleh pemeran-pemerannya.

 

  1. Mulan (1998)

Siapa sangka ternyata film masa kecil kita sarat akan pesan moral dan ajaran feminisme?

Tumbuh di lingkungan yang selalu mendikte apa yang harus dilakukan dan harus jadi seperti apa, membuat Fa Mulan merasa menjadi seorang misfits dan mulai mempertanyakan jati dirinya sendiri. Mulan pun merasa gagal sebagai seorang gadis, karena tidak bisa bertingkah seperti gadis-gadis sebayanya, dan tidak bisa menjadi sosok pengantin yang ideal. Ia meratapi kegalauannya dengan menyanyikan lagu Reflection dengan lirik yang menohok:

“I am now in a world where I
Have to hide my heart and what I believe in
But somehow I will show the world
What’s inside my heart and be loved for who I am”

Film ini berpusat pada kisah perjuangan Mulan untuk membuktikan bahwa ia tidak harus hidup sesuai dengan standar dan tatanan sosial yang begitu kental dalam budaya masyarakat Cina, dengan menjadi seorang prajurit kerajaan. Perjuangan Mulan pun berbuah manis, karena dengan jalan hidup yang dipilihnya, ia berhasil menyelamatkan sang Kaisar dari terror kaum Hun, yang ingin mengambil alih kekuasaan kerajaan Cina.

 

  1. Kill Bill: Vol. 1 & Vol. 2 (2003 & 2004)

Senada dengan film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, film yang diarahkan oleh Quentin Terentino ini, juga bercerita tentang pembalasan dendam seorang wanita, yang merupakan salah satu anggota geng pembunuh Deadly Viper Assassination Squad. Wanita yang namanya dikonotasikan sebagai The Bride atau Black Mamba ini membalas dendam kepada semua orang yang menginvasi hari pernikahannya, membunuh suami dan anak yang di dalam kandungannya, serta membuat ia koma dan menerima pelecehan seksual di rumah sakit selama empat tahun. Karakter badass Black Mamba yang diperankan oleh Uma Thurman membuktikan kepada para penontonnya, kalau the bride doesn’t always need a prince in a white horse and shining armor to save her. She just need a good Hattori Hanzo made samurai sword to save herself.

 

  1. Hidden Figures (2016)

Film yang diadaptasi dari novel karya Margot Lee Shetterly ini bicara soal keberhasilan tiga sekawan yang menjadi ahli matematika di lembaga penelitian antariksa Amerika atau NASA. Namun uniknya, mereka bertiga adalah wanita Afrika-Amerika yang berhasil bekerja di lingkungan kerja yang didominasi oleh laki-laki berkulit putih. Berlatar pada tahun ’60 an, dimana Amerika masih kental dengan rasisme dan ketidakadilan terhadap pekerja wanita, tiga sekawan ini membuktikan kompetensi mereka sebagai pemikir utama di balik keberhasilan peluncuran astronot John Glenn ke luar angkasa. Mereka juga mengecap ketidakadilan di tempat kerja mereka, seperti keterbatasan dalam mengakses informasi, tidak boleh minum dan makan dari wadah yang sama, dan harus memakai toilet yang berbeda dengan kaum kulit putih. Keberhasilan mereka membawa perubahan dalam stuktur kerja dan kultur lembaga NASA, dan mengubah pola pikir masyarakat umum tentang wanita dan warga kulit hitam pada masa itu.

Editor: Vania Evan

107.7 UMN Radio [CT]

Current track
TITLE
ARTIST