4 TIPE MAHASISWA PADA ELECTION WEEK UMN 2018

Written by on November 21, 2018

Bulan demokrasi 2018 di UMN baru aja selesai Ultimafriends, dengan total enam agenda yang telah dilaksanakan oleh KPU UMN. Mulai dari masa kampanye, pembukaan bulan demokrasi, debat, panggung demokrasi, election week yang berlangsung dari Senin (12/11) hingga Jumat (16/11) sampai penghitungan suara pada Sabtu (17/11).

Pada bulan demokrasi tahun ini, KPU UMN  mengusung tagline #BERANIBERSUARA. Tagline ini merupakan aspirasi dari KPU yang berharap partisipasi mahasiswa UMN pada election week tahun ini dapat meningkat dari tahun sebelumnya. Steffie Lienanta, selaku ketua KPU UMN 2018 mengaku sudah memaksimalkan perisiapan menjelang bulan demokrasi lebih dari satu bulan. “Kami selalu berusaha meningkatkan awareness ke mahasiswa, alasan kenapa mereka harus milih juga sudah dijabarkan. Segala bentuk sosialisasi dan kampanye juga sudah dilakukan lebih dari sebulan bersama civitas akademika.”

 

Bilik suara milik KPU yang berada di Kantin C yang dibuka mulai dari pukul 10.00-17.00, Jumat (16/11). Semua pemungutan suara menggunakan sistem online dengan menggunakan akun e-mail student.

Ultimafriends, tim reporter telah merangkum empat tipe mahasiswa pada election week kemarin nih, yuk simak

1. Mahasiswa yang memilih dan mengetahui paslon yang dipilih

Tipe yang pertama ini adalah mahasiswa yang turut berpartisipasi langsung di election week kemarin. Alasan mereka memilih juga berbagai macam, mulai dari memilih karena memang memiliki kesadaran sendiri, memilih karena memliki keselarasan visi misi dengan pasangan calon (paslon) tertentu, sampai memilih karena melihat kinerja paslon sebelum-sebelumnya.  Dapat disimpulkan bahwa mahasiswa yang termasuk dalam tipe ini adalah mahasiswa-mahasiswa yang sudah mempertimbangkan pilihannya dengan matang-matang. Seperti penuturan Michelle Florenzia (Jurnalistik 2016), sebelum memilih ia akan lebih dulu mencari tau cara kerja paslon tertentu hingga visi misi yang menurutnya sesuai. “Kalo visi misi mereka gak jelas, pengalaman juga gak terlalu mumpuni, gua gak bakal milih,” sambung Michelle. Alasan lain disampaikan oleh Maya Angela (Manajemen 2016), menurutnya memilih salah satu paslon akan sangat terasa dampaknya ketika aktif di kepanitiaan.

 

2. Mahasiswa yang memilih tapi tidak mengetahui paslon yang dipilih

Tipe kedua merupakan mahasiswa yang turut berpartisipasi namun sayangnya mereka kurang pengetahuan akan paslon yang dipilih. Alasan mahasiswa yang masuk ke dalam tipe ini berbagai macam, salah satunya kesadaran bahwa satu suara sangat berpengaruh pada kualitas program kerja selama setahun ke depan. Seperti Arzel Nathaniel (Strategic Communication 2018) yang mengaku bahwa ia belum mengetahui paslon yang ia pilih baik secara individunya maupun program-program kerjanya. “Biar berpartisipasi turut berpartisipasi sih, karena kan satu suara berpengaruh. Tahun depan gue bakal lebih cari tau sih tentang paslon-paslonnya, biar ada gambaran dikit lah,” tutup Arzel.

 

 

3. Mahasiswa yang tidak memilih

Tipe ini adalah mahasiwa yang memilih untuk golput dengan berbagai alasan. Andreas Christanto (Desain Komunikasi Visual 2018) salah satunya. Mahasiswa angkatan 2018 ini masih belum paham dengan fungsi pemilu kemarin. Hal tersebut yang membuat Andreas memutuskan untuk tidak memilih tahun ini. “Sebenernya aku belum kebayang untuk apa sih ada ketua dan lain-lain itu, terus ya memutuskan untuk nggak milih dulu deh, daripada salah pilih.” Alasan lain disampaikan oleh Trixiedia (Ilmu Komunikasi 2016). Mahasiswa semester lima ini mengaku perubahan yang ada sebelumnya belum cukup terasa selain itu program kerja yang ditawarkan belum ada yang mampu menarik perhatiannya. “Menurut aku yang kurang itu hype-nya pemilihan, kurang berasa gitu di kampus, terus proker dari para paslon juga belum ada yang stand out,” tutur Trixie.

 

4. Mahasiswa yang tidak memilih karena tidak mengetahui ada election week

Tipe ini masih dijumpai di UMN nih Ultimafriends, mahasiswa yang tidak mengetahui keberlangsungan election week. Salah satunya Audra Kevin, yang mengaku hanya mengetahui perihal paslon-paslon yang sedang berkampanye. Menurutnya sosialisasi mengenai hari pemilihan dirasa kurang. “Mungkin kedepannya panitia bisa lebih ajakin kayak ‘ayok kakak ikut pemilu’ gitu sih ya. Dengan kampanye keliling UMN dan sekitarnya mungkin,” kata Audra.

 

Setelah memilih di bilik suara, kelingking mahasiswa akan ditandai dengan tinta dan mendapatkan stiker sebagai suvenir karena telah berpartisipasi. Diambil pada Jumat (16/11).

Terlepas dari empat tipe mahasiswa di atas Ultimafriends, usaha dari KPU UMN tahun ini perlu diacungi jempol lantaran jumlah pemilih yang meningkat 6% dari tahun sebelumnya atau dengan total 2693 suara. Namun, KPU UMN sendiri memiliki harapan lebih di Bulan Demokrasi 2018 ini karena masih banyak mahasiswa yang bersikap apatis.

“Harapannya sih supaya iklim demokrasi di kampus sendiri itu terbentuk dengan baik dari angka 50%. Karena secara langsung maupun gak langsung, organisator ini yang akan memengaruhi kebijakan di kampus. Overall, ya balik lagi, kita ini mahasiswa dan bertindak skeptis itu kewajiban, salah satu caranya dengan belajar berdemokrasi di lingkungan kampus sebelum terjun ke masyarakat langsung,” tutup Steffie.

Nah Ultimafriends, itu dia empat tipe mahasiswa pada election week kemarin. Kalo kamu masuk ke tipe yang mana nih?

Foto : Refinta Amalia
Editor: Vania Evan

107.7 UMN Radio [CT]

Current track
TITLE
ARTIST